Cara Membaca Jurnal Internasional dengan Cepat dan Tetap Paham Isinya

Mahasiswi membaca jurnal internasional sambil memberi highlight dan mencatat poin penting di perpustakaan kampus.

Kalau kamu pernah membuka jurnal internasional lalu menutupnya lagi setelah beberapa menit karena merasa tidak mengerti apa-apa, kamu tidak sendirian. Bukan karena kamu tidak cukup pintar. Bukan juga karena jurnalnya terlalu sulit. Masalah yang paling sering terjadi jauh lebih sederhana: kamu tidak tahu dari mana harus mulai dan bagian mana yang sebenarnya perlu kamu baca.

Kebiasaan membaca jurnal seperti membaca novel, dari halaman pertama sampai terakhir secara berurutan, adalah cara yang paling tidak efisien. Jurnal ilmiah tidak dirancang untuk dibaca seperti itu. Ia dirancang untuk dinavigasi. Setiap bagiannya menyimpan jenis informasi yang berbeda, dan pembaca yang berpengalaman tahu persis bagian mana yang perlu dibuka tergantung pada apa yang sedang mereka cari.

Ini adalah panduan yang tidak hanya memberi tahu kamu “baca abstrak dulu” lalu berhenti di situ. Yang akan kamu temukan di sini adalah cara berpikir yang berbeda tentang membaca jurnal, urutan membaca yang disesuaikan dengan tujuanmu, teknik mengatasi hambatan bahasa, dan sistem mencatat yang bisa langsung kamu gunakan dalam penulisan akademik.

Mengapa Membaca Jurnal Terasa Berat dan Memakan Waktu

Sebelum masuk ke tekniknya, penting untuk memahami mengapa membaca jurnal sering terasa melelahkan bahkan sebelum selesai di halaman pertama. Ini bukan soal kemampuan, tapi soal ekspektasi yang salah arah.

Kebanyakan orang datang ke jurnal dengan satu dari dua kondisi: tidak tahu apa yang dicari, atau tahu apa yang dicari tapi tidak tahu di mana menemukan informasi itu dengan cepat. Keduanya menghasilkan cara membaca yang sama: membaca semuanya secara linear dengan harapan informasi yang dibutuhkan akan muncul dengan sendirinya.

Masalah lainnya adalah hambatan bahasa. Jurnal internasional ditulis dalam bahasa Inggris akademik yang padat istilah teknis, dan bagi pembaca yang tidak terbiasa, setiap paragraf terasa seperti rintangan tersendiri. Akibatnya, energi habis untuk mencerna bahasa, bukan untuk memproses ide.

Kabar baiknya adalah dua masalah ini bisa diatasi dengan strategi yang tepat. Tapi strateginya harus dimulai dari memahami struktur jurnal sebagai alat navigasi, bukan sebagai teks yang harus dibaca dari awal ke akhir.

Memahami Fungsi Setiap Bagian Jurnal Sebelum Mulai Membaca

Membaca jurnal dengan efisien dimulai sebelum kamu benar-benar membacanya. Artinya, kamu perlu tahu lebih dulu apa yang bisa kamu dapatkan dari masing-masing bagiannya, sehingga kamu bisa langsung menuju bagian yang paling relevan dengan kebutuhanmu saat itu.

Setiap bagian jurnal adalah ruangan yang berbeda dalam satu gedung. Kamu tidak perlu masuk ke semua ruangan setiap kali datang. Kamu masuk ke ruangan yang menyimpan apa yang sedang kamu butuhkan.

Abstrak sebagai Peta Isi Jurnal

Abstrak adalah ringkasan seluruh penelitian dalam satu atau dua paragraf. Tapi fungsinya jauh lebih dari sekadar ringkasan. Abstrak adalah alat penyaring pertama yang membantumu memutuskan apakah jurnal ini layak dibaca lebih jauh atau tidak.

Dari abstrak yang baik, kamu bisa mendapatkan empat hal sekaligus dalam waktu dua sampai tiga menit:

  • Topik dan tujuan penelitian: apa yang diteliti dan mengapa.
  • Metode yang digunakan: bagaimana penelitian dilakukan secara garis besar.
  • Temuan utama: hasil yang paling signifikan.
  • Implikasi atau kesimpulan: apa artinya temuan itu.

Kalau setelah membaca abstrak kamu sudah bisa menjawab pertanyaan “apakah jurnal ini relevan dengan penelitianku?”, berarti abstrak sudah bekerja dengan baik sebagai peta. Kalau relevan, lanjutkan. Kalau tidak, tutup dan cari jurnal lain. Jangan memaksakan diri membaca lebih jauh kalau abstraknya sudah menunjukkan bahwa jurnal itu tidak sesuai dengan kebutuhanmu.

Pendahuluan dan Informasi yang Bisa Langsung Diambil

Pendahuluan bukan pengantar biasa. Ia adalah argumentasi mengapa penelitian ini perlu dilakukan, dan di dalamnya tersimpan dua hal yang sangat berguna untuk penulisan akademik.

Pertama, pendahuluan biasanya memuat tinjauan singkat penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan. Ini adalah jalan pintas untuk menemukan referensi tambahan yang bisa kamu eksplorasi lebih lanjut. Perhatikan nama penulis dan tahun yang dikutip dalam pendahuluan, terutama yang dikutip lebih dari sekali karena itu biasanya penelitian yang paling penting dalam bidang tersebut.

Baca Juga:  Mengapa Kalimat Topik yang Baik Penting dalam Menulis Esai

Kedua, pendahuluan memuat pernyataan celah penelitian, yaitu bagian di mana penulis menjelaskan apa yang belum dijawab oleh penelitian sebelumnya dan mengapa penelitian ini hadir untuk mengisinya. Untuk mahasiswa yang sedang menyusun latar belakang skripsi, bagian ini adalah referensi yang sangat berharga untuk memahami bagaimana celah penelitian seharusnya ditulis.

Kamu tidak perlu membaca pendahuluan kata per kata. Scan paragraf pertama dan terakhirnya, plus bagian yang memuat pernyataan tujuan penelitian, biasanya ditandai dengan frasa seperti “this study aims to” atau “the purpose of this research is.”

Metodologi dan Kapan Kamu Perlu Membacanya Mendalam

Bagian metodologi adalah yang paling sering menghabiskan waktu pembaca pemula secara tidak perlu. Ini penuh dengan detail teknis tentang desain penelitian, instrumen, prosedur, dan analisis statistik yang, kalau kamu tidak punya tujuan spesifik, tidak perlu dibaca secara mendalam.

Kapan kamu perlu membaca metodologi secara mendalam:

  • Kamu sedang merancang penelitian dengan desain yang serupa dan butuh referensi cara pengumpulan data.
  • Kamu ingin mengevaluasi kualitas penelitian ini untuk keperluan tinjauan kritis.
  • Kamu butuh memahami instrumen atau skala pengukuran yang digunakan.

Kalau tujuanmu hanya mengambil temuan atau mengutip teori, kamu bisa melewati bagian metodologi sepenuhnya atau hanya membaca satu paragraf pertamanya untuk tahu jenis penelitian apa yang digunakan.

Hasil dan Diskusi sebagai Inti Temuan

Bagian hasil dan diskusi adalah tempat di mana jawaban dari pertanyaan penelitian benar-benar ada. Ini juga bagian yang paling langsung bisa kamu manfaatkan untuk penulisan akademik.

Bagian hasil biasanya memuat tabel, grafik, dan angka statistik yang menggambarkan temuan secara objektif. Kalau penelitianmu bersifat kuantitatif, bagian ini adalah yang paling padat datanya. Tapi kamu tidak perlu memahami setiap angka secara mendalam. Fokus pada tabel atau grafik yang merangkum temuan utama, dan baca kalimat pertama dari setiap paragraf untuk menangkap poin pentingnya.

Bagian diskusi adalah tempat penulis menginterpretasikan temuan, menghubungkannya dengan penelitian sebelumnya, dan menjelaskan implikasinya. Ini bagian yang paling banyak mengandung argumen dan bisa langsung dijadikan bahan kutipan atau referensi untuk analisis dalam tulisanmu.

Tiga Mode Membaca yang Perlu Kamu Kuasai

Tidak ada satu cara membaca yang berlaku untuk semua situasi. Pembaca jurnal yang efisien menggunakan tiga mode yang berbeda tergantung pada apa yang sedang mereka butuhkan, dan mereka bisa berpindah di antara ketiganya dalam satu sesi membaca.

Skimming untuk Menilai Relevansi Awal

Skimming adalah membaca secepat mungkin untuk mendapat gambaran umum tentang isi sebuah tulisan tanpa memproses setiap detailnya. Dalam konteks jurnal, ini adalah yang kamu lakukan saat pertama kali membuka sebuah jurnal untuk memutuskan apakah ia layak dibaca lebih jauh.

Cara skimming jurnal yang efektif:

  • Baca judul secara penuh dan perhatikan kata kunci utamanya.
  • Baca abstrak dari awal sampai akhir tapi dengan kecepatan normal, jangan lambat.
  • Scan sub-judul di seluruh jurnal untuk mendapat gambaran struktur.
  • Baca kalimat pertama dan terakhir dari paragraf-paragraf kunci, terutama di pendahuluan dan diskusi.
  • Perhatikan tabel atau grafik yang ada, baca judulnya saja.

Proses ini seharusnya memakan waktu tidak lebih dari lima menit untuk satu jurnal. Kalau setelah itu kamu sudah bisa menjawab pertanyaan “apakah ini relevan?”, skimmingmu sudah berhasil.

Scanning untuk Menemukan Informasi Spesifik

Scanning berbeda dari skimming. Kalau skimming adalah membaca untuk mendapat gambaran umum, scanning adalah mencari informasi spesifik yang sudah kamu tahu ingin kamu temukan. Ini seperti menggunakan fungsi Ctrl+F di dokumen digital, tapi dilakukan secara manual.

Scanning berguna saat kamu sudah tahu bahwa jurnal ini relevan dan kamu mencari informasi tertentu, misalnya definisi suatu konsep, angka statistik tertentu, atau pernyataan tentang variabel yang kamu teliti.

Cara melakukannya: gerakan mata kamu secara vertikal ke bawah di tengah halaman sambil mencari kata kunci yang relevan. Begitu menemukannya, berhenti dan baca paragraf di sekitarnya secara lebih cermat. Scanning jauh lebih cepat dari membaca linear tapi membutuhkan fokus pada kata kunci yang spesifik.

Deep Reading untuk Bagian yang Benar-Benar Penting

Deep reading adalah membaca yang paling lambat dan paling menyita perhatian. Ini dilakukan hanya untuk bagian-bagian tertentu yang benar-benar penting untuk tujuanmu, bukan untuk seluruh jurnal.

Deep reading yang efektif tidak berarti membaca pelan-pelan tanpa tujuan. Ia dilakukan dengan pertanyaan aktif di kepala: apa argumen utamanya, apa bukti yang mendukungnya, apa keterbatasannya, dan bagaimana ini berhubungan dengan apa yang sudah saya ketahui?

Membaca dengan pertanyaan seperti itu, yang sering disebut sebagai active reading, membuat proses lebih efisien karena pikiranmu terlibat aktif, bukan sekadar memindai teks secara pasif.

Urutan Membaca Berdasarkan Tujuanmu

Ini adalah bagian yang paling langsung bisa kamu terapkan. Urutan membaca yang tepat berbeda tergantung pada apa yang sedang kamu cari. Gunakan panduan berikut seperti peta: temukan situasimu, ikuti urutannya.

Kalau Tujuanmu Menilai Apakah Jurnal Ini Relevan

Kamu baru saja menemukan jurnal di Google Scholar dan belum tahu apakah layak dibaca. Urutan yang paling efisien:

  • Baca judul secara penuh. Apakah topiknya sesuai?
  • Baca abstrak dari awal sampai akhir. Apakah tujuan, metode, dan temuannya relevan?
  • Scan kata kunci yang biasanya tertera di bawah abstrak. Apakah kata kuncinya sesuai dengan topik penelitianmu?
  • Lihat daftar pustaka sekilas. Apakah referensi yang dikutip adalah sumber-sumber yang kamu kenal atau yang relevan dengan bidangmu?
Baca Juga:  Pentingnya Menggunakan Kalimat Topik yang Efektif dalam Paragraf

Kalau empat langkah ini selesai dalam lima menit dan hasilnya relevan, lanjutkan ke pembacaan yang lebih mendalam. Kalau tidak relevan, simpan atau tutup dan lanjut ke jurnal berikutnya.

Kalau Tujuanmu Mengambil Temuan untuk Tinjauan Literatur

Kamu sedang menyusun bab tinjauan pustaka atau literature review dan butuh informasi tentang apa yang sudah ditemukan oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Urutan yang disarankan:

  • Abstrak: ambil poin utama tentang tujuan dan temuan.
  • Bagian diskusi: baca lebih mendalam karena di sinilah temuan diinterpretasikan dan dihubungkan dengan konteks yang lebih luas.
  • Kalimat penutup setiap bagian: biasanya berisi sintesis atau implikasi yang bisa langsung dikutip.
  • Pendahuluan: kalau butuh referensi penelitian sebelumnya yang dikutip oleh jurnal ini.

Lewati bagian metodologi dan hasil yang terlalu teknis kecuali kamu membutuhkan angka spesifik.

Kalau Tujuanmu Memahami Metode Penelitian yang Digunakan

Kamu sedang merancang penelitianmu sendiri dan ingin melihat bagaimana peneliti lain mendesain penelitian dengan topik serupa. Urutan yang paling efektif:

  • Abstrak: untuk gambaran umum desain penelitian.
  • Bagian metodologi: baca secara mendalam, termasuk desain penelitian, populasi dan sampel, instrumen, dan teknik analisis.
  • Bagian hasil: sekilas, untuk memahami jenis data yang dihasilkan dari metode tersebut.
  • Keterbatasan penelitian: biasanya ada di bagian akhir diskusi, berguna untuk tahu kelemahan metode yang digunakan sehingga kamu bisa merancang yang lebih baik.

Kalau Tujuanmu Membaca Secara Kritis untuk Analisis

Kamu perlu mengevaluasi kualitas sebuah jurnal, misalnya untuk tugas analisis jurnal atau untuk menyaring literatur yang akan dijadikan referensi utama. Ini adalah situasi di mana deep reading diperlukan di beberapa bagian sekaligus. Urutannya:

  • Abstrak: cek apakah klaim yang dibuat konsisten dengan temuan yang dilaporkan.
  • Pendahuluan: evaluasi apakah celah penelitian yang diidentifikasi benar-benar valid.
  • Metodologi: nilai apakah metode yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian.
  • Hasil: periksa apakah data yang disajikan mendukung kesimpulan yang dibuat.
  • Diskusi: evaluasi apakah interpretasi penulis objektif dan didukung oleh bukti.
  • Keterbatasan: perhatikan apakah penulis jujur tentang kelemahan penelitiannya.

Membaca kritis bukan berarti mencari kesalahan. Tapi membaca dengan pertanyaan yang tajam tentang koherensi, validitas, dan kejujuran ilmiah dari seluruh proses penelitian yang dilaporkan.

Cara Mengatasi Hambatan Bahasa Inggris saat Membaca Jurnal

Hambatan bahasa adalah salah satu alasan terbesar mengapa mahasiswa Indonesia merasa kewalahan saat membaca jurnal internasional. Tapi ini bukan masalah yang tidak bisa diatasi. Ada strategi konkret yang bisa membuat proses jauh lebih efisien.

Strategi Menghadapi Istilah Teknis yang Tidak Familiar

Ketika kamu menemukan istilah teknis yang tidak familiar, naluri pertama biasanya adalah langsung mencarinya di kamus atau mesin pencari. Ini adalah kebiasaan yang memperlambat proses membaca secara signifikan.

Strategi yang lebih efisien adalah membaca konteksnya lebih dulu. Banyak istilah teknis dalam jurnal ilmiah didefinisikan oleh penulis sendiri dalam paragraf yang sama atau paragraf setelahnya, terutama kalau istilah itu adalah konsep kunci dalam penelitian tersebut.

Kalau konteks tidak cukup dan istilah itu muncul berulang kali, baru cari artinya. Tapi cari dalam konteks bidang ilmu yang relevan, bukan definisi umum, karena banyak istilah memiliki makna teknis yang spesifik dalam bidang tertentu yang berbeda dari penggunaan sehari-hari.

Catat istilah-istilah teknis yang kamu temukan beserta definisinya. Semakin sering kamu membaca jurnal dalam bidang yang sama, kosa kata teknismu akan berkembang secara alami dan proses membaca akan semakin cepat.

Menggunakan Tools Terjemahan Tanpa Kehilangan Makna

Tools terjemahan bisa sangat membantu, tapi harus digunakan dengan cara yang benar agar tidak justru membuat kebingungan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:

Pertama, jangan menerjemahkan kata per kata. Terjemahkan per kalimat atau per paragraf agar konteksnya terjaga. Terjemahan kata per kata sering menghasilkan kalimat yang tidak masuk akal dalam bahasa Indonesia karena struktur gramatikal kedua bahasa sangat berbeda.

Kedua, gunakan DeepL daripada Google Translate untuk teks ilmiah. DeepL umumnya menghasilkan terjemahan yang lebih akurat untuk teks akademik dan lebih baik dalam mempertahankan nuansa teknis.

Ketiga, setelah membaca terjemahannya, selalu cek kembali teks aslinya untuk bagian yang akan kamu kutip. Kutip selalu dari teks asli dalam bahasa Inggris, bukan dari terjemahan, karena terjemahan tidak bisa sepenuhnya menggantikan makna asli dalam konteks akademik.

Keempat, kalau ada tools AI seperti yang tersedia di beberapa platform akademik, kamu bisa meminta ringkasan atau penjelasan dari bagian tertentu. Tapi tetap gunakan ini sebagai bantuan pemahaman awal, bukan pengganti membaca sumber aslinya.

Cara Mencatat Isi Jurnal agar Bisa Langsung Digunakan

Membaca jurnal tanpa mencatat adalah seperti mengisi wadah bocor. Kamu sudah menghabiskan waktu untuk memahami isinya, tapi tidak ada yang tersimpan untuk digunakan nanti. Sistem pencatatan yang baik adalah investasi waktu yang menghemat jauh lebih banyak waktu di kemudian hari.

Baca Juga:  Ini Dia 6 Subdisiplin Ilmu Biologi

Format Anotasi Sederhana yang Efektif

Anotasi adalah catatan yang dibuat langsung pada saat membaca, bisa berupa tanda pada teks digital atau catatan terpisah yang mengikuti struktur tertentu. Format yang sederhana tapi efektif untuk keperluan akademik mengikuti enam elemen ini:

  • Identitas jurnal: penulis, tahun, judul, nama jurnal, volume, halaman, dan DOI kalau ada.
  • Tujuan penelitian: satu kalimat tentang apa yang ingin dijawab oleh penelitian ini.
  • Metode: satu atau dua kalimat tentang bagaimana penelitian dilakukan.
  • Temuan utama: poin-poin kunci dari hasil dan diskusi.
  • Kutipan langsung yang relevan: kalimat spesifik yang mungkin ingin kamu kutip, lengkap dengan nomor halaman.
  • Catatan pribadimu: bagaimana jurnal ini relevan dengan penelitianmu, dan hubungannya dengan sumber lain yang sudah kamu baca.

Format ini tidak perlu panjang. Satu halaman catatan untuk satu jurnal sudah cukup dan jauh lebih berguna daripada menyimpan jurnal tanpa catatan apapun.

Mengelola Referensi dengan Zotero atau Mendeley

Kalau kamu sedang mengerjakan penelitian yang membutuhkan lebih dari sepuluh referensi, menggunakan software manajemen referensi seperti Zotero atau Mendeley adalah keputusan yang akan menghemat banyak waktu, terutama saat harus menyusun daftar pustaka.

Zotero dan Mendeley bekerja dengan cara yang mirip: kamu bisa menyimpan metadata jurnal secara otomatis dari browser, mengorganisir referensi ke dalam folder-folder berdasarkan topik, menyimpan PDF jurnal langsung di dalam sistem, dan membuat kutipan serta daftar pustaka secara otomatis dalam berbagai format seperti APA, MLA, atau Chicago.

Keduanya gratis untuk penggunaan dasar dan tersedia sebagai ekstensi browser serta aplikasi desktop. Zotero sering lebih disukai karena lebih fleksibel dan open-source, sementara Mendeley memiliki integrasi yang baik dengan Elsevier dan beberapa fitur kolaborasi yang berguna untuk kerja tim.

Yang paling penting adalah mulai menggunakannya sejak awal proses penelitian, bukan setelah semuanya selesai. Menata referensi di akhir jauh lebih melelahkan daripada menyimpannya secara sistematis dari awal.

Kebiasaan Membaca yang Justru Membuang Waktu

Mengetahui apa yang harus dilakukan sama pentingnya dengan mengetahui apa yang harus dihentikan. Tiga kebiasaan berikut ini adalah yang paling sering membuat membaca jurnal terasa melelahkan tanpa hasil yang proporsional.

Membaca dari Awal ke Akhir Secara Linear

Ini adalah kebiasaan yang paling umum dan paling tidak efisien. Membaca jurnal dari halaman pertama sampai terakhir secara berurutan mungkin terasa lebih “tuntas”, tapi dalam praktiknya menghabiskan banyak waktu untuk bagian-bagian yang tidak relevan dengan kebutuhanmu saat itu.

Jurnal ilmiah dirancang untuk dinavigasi, bukan dibaca secara linear. Penulis sendiri tahu bahwa tidak semua pembaca butuh semua bagian. Itulah mengapa setiap bagiannya diberi sub-judul yang jelas dan abstrak dibuat sebagai ringkasan mandiri yang bisa dibaca terlepas dari isinya.

Solusinya bukan membaca kurang, tapi membaca lebih cerdas. Baca bagian yang relevan secara mendalam, dan lewati atau scan bagian yang tidak relevan. Tidak ada yang salah dengan tidak membaca bagian yang memang tidak kamu butuhkan.

Terjebak Terlalu Lama di Bagian yang Tidak Relevan

Kebiasaan ini sering muncul dari rasa tidak nyaman melewatkan bagian yang terlihat penting tapi tidak dipahami. Metodologi yang penuh rumus statistik, misalnya, bisa menahan pembaca selama setengah jam tanpa menambah pemahaman yang berarti, terutama kalau tujuan membaca bukan untuk memahami metodologi.

Izinkan dirimu untuk melewatkan. Kalau setelah membaca dua paragraf pertama suatu bagian kamu sudah bisa menilai bahwa bagian itu tidak relevan dengan tujuanmu, lanjutkan ke bagian berikutnya. Ini bukan kemalasan, ini adalah efisiensi yang disengaja.

Tanda bahwa kamu terjebak di bagian yang tidak relevan adalah ketika kamu sudah membaca kalimat yang sama tiga kali tapi masih tidak memahaminya, dan kamu tidak yakin apakah pemahaman itu bahkan diperlukan untuk tujuanmu. Itu sinyal untuk melanjutkan.

Membaca Tanpa Tujuan yang Jelas

Ini adalah akar dari dua kebiasaan sebelumnya. Kalau kamu membuka jurnal tanpa tahu terlebih dahulu apa yang sedang kamu cari, kamu tidak punya panduan untuk memutuskan bagian mana yang penting dan bagian mana yang bisa dilewatkan.

Sebelum membuka setiap jurnal, luangkan tiga puluh detik untuk menjawab pertanyaan ini: apa yang ingin aku dapatkan dari jurnal ini? Jawabannya bisa sesederhana “aku ingin tahu metode apa yang digunakan” atau “aku butuh angka tentang prevalensi X” atau “aku perlu definisi konsep Y menurut peneliti ini.”

Pertanyaan yang jelas menghasilkan pembacaan yang terarah. Dan pembacaan yang terarah selalu lebih cepat dan lebih produktif dari pembacaan yang tidak punya tujuan.

Membangun Kebiasaan Membaca Jurnal yang Berkelanjutan

Semua teknik yang dijelaskan dalam panduan ini hanya efektif kalau dipraktikkan secara konsisten. Membaca satu jurnal dengan teknik yang benar sudah merupakan langkah maju, tapi yang membuat perbedaan nyata adalah ketika teknik itu menjadi kebiasaan yang otomatis.

Ada satu pola yang hampir selalu benar: semakin banyak jurnal dalam satu bidang yang kamu baca, semakin cepat kamu membaca jurnal berikutnya dalam bidang yang sama. Ini bukan keajaiban. Kosa kata teknismu berkembang, struktur argumen dalam bidang itu menjadi familiar, dan nama-nama peneliti kunci mulai kamu kenali. Proses yang di awal terasa lambat dan melelahkan secara alami menjadi lebih ringan.

Tapi ini hanya terjadi kalau kamu terus membaca. Mulailah dengan satu jurnal per hari menggunakan urutan membaca berdasarkan tujuan yang ada di panduan ini. Catat dengan format anotasi sederhana. Simpan di Zotero atau Mendeley. Setelah dua minggu, kamu akan mulai merasakan perbedaannya, bukan hanya dalam kecepatan membaca, tapi juga dalam seberapa banyak yang kamu ingat dan bisa gunakan dari setiap jurnal yang kamu baca.

Referensi

Konten menarik lain:​
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments