Banyak orang pernah mengisi kuesioner gaya belajar, lalu keluar dengan label: “kamu tipe visual,” atau “kamu kinestetik.” Setelah itu, mereka mulai menyesuaikan cara belajar berdasarkan label tersebut. Menolak membaca teks panjang karena merasa tidak cocok. Merasa gagal belajar dari ceramah karena dibilang bukan auditori. Masalahnya, keputusan besar soal strategi belajar itu dibangun di atas fondasi yang ternyata sudah lama dipertanyakan oleh para peneliti. Bukan berarti konsep gaya belajar visual auditori kinestetik tidak berguna sama sekali. Tapi cara banyak orang memakainya selama ini ternyata justru bisa membatasi potensi belajar mereka sendiri. Artikel ini akan menjelaskan dari mana konsep ini berasal, apa yang sebenarnya ditemukan peneliti, di mana letak salah kaprahnya, dan cara belajar mana yang terbukti lebih efektif.
Daftar Isi
ToggleDari Mana Konsep Ini Datang dan Kenapa Langsung Populer
Konsep gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik tidak muncul dari laboratorium neurosains. Ia lahir dari pengamatan praktis di dunia pendidikan, kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang awalnya dimaksud.
Neil Fleming dan Kuesioner yang Terasa Masuk Akal
Pada akhir 1980-an, seorang guru asal Selandia Baru bernama Neil Fleming mengembangkan model yang kemudian dikenal sebagai VARK (Visual, Auditory, Reading/Writing, Kinesthetic). Model ini lahir dari keresahan sederhana: mengapa beberapa siswa lebih mudah menangkap pelajaran lewat gambar, sementara yang lain butuh mendengar penjelasan langsung? Fleming ingin membantu guru dan siswa memahami preferensi belajar masing-masing.
Kuesioner yang ia buat terasa intuitif. Pertanyaannya relevan dengan keseharian, dan hasilnya memberikan label yang terasa personal. Wajar kalau banyak orang langsung percaya. Kita semua memang merasakan perbedaan: ada hari-hari ketika mendengarkan podcast terasa lebih mudah daripada membaca, atau saat melihat diagram membantu lebih cepat paham dibanding membaca deskripsi panjang. Perasaan itu nyata. Yang jadi masalah adalah ketika perasaan preferensi itu diubah menjadi label permanen yang menentukan cara seseorang harus belajar.
Model VAK sendiri sudah ada sebelum Fleming. Versi awalnya berkembang di dunia psikologi dan pendidikan sejak tahun 1970-an, dipengaruhi oleh berbagai teori tentang modalitas sensoris. Fleming hanya mempopulerkan dan memperluas modelnya, lalu menyebarkannya ke dunia pendidikan secara masif.
Kenapa Otak Kita Mudah Percaya pada Kategori Seperti Ini
Ada alasan psikologis mengapa konsep VAK begitu mudah diterima. Pertama, manusia memang menyukai kategorisasi. Ketika sesuatu diberi label yang terasa tepat menggambarkan diri kita, kita cenderung menerimanya tanpa terlalu banyak mempertanyakan buktinya. Ini yang disebut confirmation bias: sekali kamu percaya kamu “tipe visual,” kamu akan lebih ingat momen ketika belajar dari gambar terasa efektif, dan lebih mudah melupakan momen ketika cara lain juga bekerja dengan baik.
Kedua, konsep ini terasa ilmiah karena melibatkan kata-kata seperti “modalitas sensoris” dan “preferensi belajar.” Padahal, memiliki preferensi terhadap sesuatu tidak secara otomatis berarti cara lain tidak bisa bekerja. Kamu mungkin lebih suka makan nasi, tapi tubuhmu tetap bisa mencerna roti. Begitu juga otak: ia tidak terkunci hanya pada satu jalur penerimaan informasi.
Yang Selama Ini Diajarkan tentang VAK, dan Bagian Mana yang Masih Berlaku
Sebelum langsung menolak semua yang pernah kamu pelajari tentang VAK, ada baiknya kita pisahkan mana yang benar dan mana yang menjadi sumber masalah.
Preferensi Belajar Itu Nyata, Tapi Bukan Berarti Kamu Hanya Bisa Satu Cara
Ini bagian yang sering disalahpahami. Peneliti tidak mengatakan bahwa perbedaan individu dalam belajar tidak ada. Tentu ada. Beberapa orang memang merasa lebih nyaman belajar dengan cara tertentu, dan itu wajar. Yang dipermasalahkan oleh para ilmuwan bukan keberadaan preferensi itu sendiri, melainkan asumsi bahwa kamu hanya bisa belajar secara optimal kalau belajar sesuai preferensimu.
Perbedaannya penting. Preferensi adalah kecenderungan yang dipengaruhi oleh kebiasaan, konteks, dan pengalaman. Ia bisa berubah. Ia bisa dikembangkan. Seorang mahasiswa yang merasa dirinya “bukan auditori” mungkin tidak pernah benar-benar mencoba strategi mendengarkan yang tepat, bukan karena otaknya tidak bisa, tapi karena ia sudah menyerah duluan berdasarkan label.
Perbedaan antara Menyukai Cara Tertentu dan Bergantung pada Cara Tertentu
Bayangkan dua mahasiswa yang keduanya mengidentifikasi diri sebagai “tipe visual.” Mahasiswa pertama menggunakan pemahaman ini untuk menambah pilihan: ia membuat mind map, mencari diagram, dan melengkapi catatan dengan skema visual. Mahasiswa kedua menggunakan pemahaman ini sebagai batasan: ia menolak belajar dari rekaman kuliah, merasa tidak perlu membaca buku teks, dan hanya mengandalkan slide presentasi.
Mahasiswa pertama menggunakan informasi preferensi dengan bijak. Mahasiswa kedua terjebak pada label. Dalam banyak kasus yang terjadi di kehidupan nyata, yang lebih umum adalah pola seperti mahasiswa kedua karena cara konsep VAK dipresentasikan memang cenderung mendorong orang ke arah sana.
Apa yang Ditemukan Peneliti Ketika Mencoba Membuktikan VAK
Kontroversi ini bukan sesuatu yang baru muncul kemarin. Peneliti sudah menguji hipotesis VAK selama bertahun-tahun, dengan hasil yang konsisten.
Studi Berulang Menemukan Hasil yang Sama
Pada tahun 2008, Harold Pashler bersama tim penelitinya menerbitkan tinjauan komprehensif tentang gaya belajar dalam jurnal Psychological Science in the Public Interest. Kesimpulannya tegas: tidak ada bukti ilmiah yang memadai untuk mendukung klaim bahwa mengajar atau belajar sesuai tipe gaya belajar meningkatkan hasil belajar. Untuk membuktikan hipotesis VAK, para peneliti seharusnya menemukan pola seperti ini: siswa tipe visual belajar lebih baik dari materi visual, dan lebih buruk dari materi auditori. Sementara siswa tipe auditori menunjukkan pola sebaliknya. Pola semacam ini (disebut crossover interaction) hampir tidak ditemukan dalam penelitian yang dirancang secara ketat.
Studi lain yang sering dikutip dilakukan oleh Dekker dan koleganya pada tahun 2012, melibatkan ratusan guru di Inggris dan Belanda. Ditemukan bahwa sekitar 93 persen guru di Inggris percaya bahwa siswa belajar lebih baik ketika diajar sesuai gaya belajar dominan mereka. Keyakinan itu sangat kuat, namun tidak sejalan dengan apa yang ditemukan di laboratorium.
Lebih baru lagi, sebuah meta-analisis yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Psychology pada tahun 2024 mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai studi tentang hipotesis pencocokan gaya belajar. Hasilnya: efek yang terdeteksi sangat kecil dan tidak konsisten. Peneliti menyimpulkan bahwa mengajar dengan berbagai pendekatan sekaligus (multimodal) jauh lebih efisien dan terbukti lebih bermanfaat daripada upaya mencocokkan instruksi dengan tipe gaya belajar siswa.
Ketika Mengikuti Gaya Belajar Dominan Justru Tidak Membantu
Ada temuan yang lebih mengejutkan. Paul Howard-Jones, pakar neurosains pendidikan, menyampaikan bahwa ada indikasi beberapa siswa justru mendapat manfaat lebih besar ketika belajar dengan cara yang bukan preferensi mereka. Alasannya masuk akal: ketika otak dipaksa bekerja dengan cara yang sedikit berbeda dari kebiasaannya, ia cenderung memproses informasi lebih dalam.
Sebuah studi tahun 2018 yang melibatkan lebih dari 400 mahasiswa di sebuah universitas di Indiana menunjukkan sesuatu yang menarik. Mayoritas mahasiswa menggunakan strategi belajar yang tidak sesuai dengan tipe gaya belajar mereka menurut kuesioner. Dan yang menggunakan strategi sesuai tipe mereka tidak menunjukkan hasil yang jauh lebih baik. Ini menunjukkan bahwa di kehidupan nyata, orang secara naluriah sudah fleksibel dalam cara belajar mereka, bahkan tanpa disadari.
Salah Kaprah yang Paling Sering Terjadi Saat Memakai Konsep Ini
Masalah terbesar dari popularitas VAK bukan pada teorinya sendiri, melainkan pada cara teori itu diterapkan dan diinternalisasi.
Merasa Tidak Bisa Belajar dari Cara yang Bukan “Gayamu”
Ini adalah konsekuensi paling berbahaya dari memberi label gaya belajar terlalu rigid. Seorang mahasiswa yang diberitahu ia “tipe kinestetik” mungkin mulai percaya bahwa ia tidak bisa belajar efektif dari membaca buku atau mendengarkan ceramah. Padahal, banyak materi seperti teori, konsep abstrak, atau analisis teks memang harus dipahami lewat membaca dan mendengarkan. Tidak ada cara kinestetik yang benar-benar menggantikan proses itu.
Yang terjadi kemudian adalah self-fulfilling prophecy. Karena sudah percaya ia tidak cocok dengan cara tertentu, ia tidak benar-benar mencoba dengan serius. Ketika hasilnya kurang baik, ia menyimpulkan: “terbukti, aku memang tidak cocok belajar dengan cara ini.” Padahal masalahnya mungkin bukan pada tipenya, melainkan pada strategi spesifik yang belum ditemukan.
Melabeli seseorang sebagai satu tipe juga berisiko membatasi stimulasi otak dari jalur lain. Padahal, otak justru membangun koneksi yang lebih kuat ketika informasi masuk dari beberapa jalur sekaligus. Ini bukan teori, melainkan bagaimana sistem saraf bekerja secara umum.
Mengisi Tes Online dan Langsung Menyimpulkan Kemampuan Diri
Kuesioner gaya belajar yang beredar secara online, termasuk yang mengklaim berbasis VARK, pada dasarnya hanya mengukur preferensi yang dilaporkan sendiri (self-reported preference). Artinya, hasilnya mencerminkan apa yang kamu pikir kamu sukai, bukan bagaimana otakmu sebenarnya paling optimal memproses informasi.
Preferensi yang dilaporkan sendiri bisa dipengaruhi oleh banyak hal: kebiasaan lama, pengalaman belajar yang menyenangkan di masa lalu, atau bahkan suasana hati saat mengisi kuesioner. Kuesioner seperti ini tidak bisa mengukur kapasitas kognitif, kecepatan pemrosesan informasi per modalitas, atau efektivitas belajar yang sebenarnya.
Ini bukan berarti kuesioner gaya belajar tidak berguna sama sekali. Ia bisa jadi titik awal refleksi yang bagus. Tapi menjadikannya sebagai acuan utama dalam mendesain seluruh strategi belajar adalah langkah yang terlalu jauh.
Kalau Bukan VAK, Cara Belajar Mana yang Terbukti Lebih Efektif
Membantah VAK tanpa menawarkan alternatif tentu tidak membantu. Kabar baiknya, ada pendekatan yang lebih kuat secara bukti ilmiah dan justru lebih mudah diterapkan.
Apa Itu Multimodal Learning dan Kenapa Otak Meresponsnya Lebih Baik
Multimodal learning adalah pendekatan belajar yang menggunakan lebih dari satu cara penyampaian informasi secara bersamaan atau bergantian. Misalnya: membaca teks sekaligus melihat diagram yang menjelaskan hal yang sama, atau mendengarkan penjelasan lalu langsung mencoba mempraktikkannya. Pendekatan ini tidak bertanya “kamu tipe apa” tapi bertanya “materi ini paling baik dijelaskan dengan cara apa.”
Salah satu efek yang sudah banyak diteliti adalah multimedia effect: seseorang cenderung memahami dan mengingat informasi lebih baik ketika teks dan gambar disajikan bersama dibandingkan ketika hanya satu di antaranya. Efek ini berlaku untuk hampir semua orang, bukan hanya untuk “tipe visual.”
Alasannya berkaitan dengan cara otak menyimpan informasi. Ketika informasi yang sama masuk melalui beberapa jalur sensoris dan representasi yang berbeda, otak membangun lebih banyak koneksi untuk informasi tersebut. Koneksi yang lebih banyak berarti jalur retrieval yang lebih banyak pula, sehingga lebih mudah diingat dan diterapkan.
Para peneliti, termasuk tim dari Frontiers in Psychology, menyimpulkan bahwa mengajar dengan berbagai modalitas sekaligus jauh lebih praktis dan efektif dibandingkan berusaha mencocokkan cara mengajar dengan tipe gaya belajar setiap individu.
Cara Mudah Menerapkannya Tanpa Perlu Berganti Sistem Belajar Sepenuhnya
Kamu tidak perlu merombak seluruh cara belajarmu untuk mulai menerapkan pendekatan multimodal. Perubahan kecil yang konsisten sudah cukup berarti. Berikut beberapa langkah konkret yang bisa dicoba:
- Tambahkan satu lapisan representasi untuk setiap materi yang kamu pelajari. Jika kamu membaca teks, coba buat sketsa singkat atau diagram sederhana dari konsep yang baru dipahami. Jika kamu mendengarkan penjelasan, tulis ringkasannya dengan kata-katamu sendiri.
- Cocokkan format dengan jenis materi, bukan dengan tipe dirimu. Materi hitungan dan rumus biasanya lebih mudah dipahami lewat latihan soal (kinestetik dalam arti praktik langsung). Materi konseptual seperti teori sejarah atau prinsip ekonomi sering lebih baik dipelajari lewat membaca dan diskusi. Fleksibilitas ini jauh lebih berguna daripada memaksakan satu format untuk semua jenis materi.
- Gunakan pengulangan lintas format. Pelajari sesuatu pertama kali lewat membaca, lalu dengarkan penjelasannya (podcast, video, atau diskusi), lalu coba jelaskan ke orang lain atau tulis ulang dengan bahasamu sendiri. Setiap pengulangan dalam format berbeda memperkuat penyimpanan informasi.
- Evaluasi efektivitas, bukan kenyamanan. Ini pembeda paling penting. Kenyamanan tidak selalu sama dengan efektivitas. Menonton video mungkin terasa lebih menyenangkan dari membaca, tapi untuk materi tertentu, membaca aktif sambil membuat catatan bisa jauh lebih efektif. Tanyakan bukan “cara mana yang paling aku suka” tapi “cara mana yang paling membantu aku benar-benar paham.”
VAK Masih Berguna, Asalkan Tidak Dipakai dengan Cara Ini
Setelah semua ini, penting untuk tidak jatuh ke kesimpulan yang terlalu ekstrem. VAK bukan teori yang sepenuhnya tidak berguna. Masalahnya bukan pada konsepnya sendiri, melainkan pada cara penggunaannya yang terlalu kaku.
Mengetahui bahwa kamu punya kecenderungan tertentu dalam belajar itu bermanfaat sebagai titik awal. Jika kamu tahu bahwa membaca materi baru dalam bentuk diagram lebih cepat masuk dibanding teks panjang, itu informasi yang berguna untuk mengatur urutan belajar. Tapi berhenti di sana. Jangan biarkan kecenderungan itu menjadi alasan untuk menghindari format lain.
Yang perlu diubah adalah cara kita memaknai konsep ini. Dari “aku tipe X, jadi aku harus belajar dengan cara X” menjadi “aku punya kecenderungan ke arah X, tapi aku akan tetap menggunakan berbagai cara sesuai kebutuhan materi.” Perbedaannya terlihat kecil, tapi dampaknya sangat berbeda dalam jangka panjang.
Otak manusia jauh lebih fleksibel dari apa yang digambarkan oleh kuesioner gaya belajar. Ia bisa belajar dari gambar, suara, gerakan, tulisan, dan kombinasi semuanya. Tugas kita bukan menemukan satu cara yang paling cocok lalu berpegang teguh padanya. Tugas kita adalah terus memperluas cara belajar agar otak punya lebih banyak jalur untuk menyerap, memproses, dan mengingat informasi.
Referensi
- Pashler, H., McDaniel, M., Rohrer, D., & Bjork, R. (2008). Learning styles: Concepts and evidence. Psychological Science in the Public Interest, 9(3), 105–119. https://doi.org/10.1111/j.1539-6053.2009.01038.x
- Dekker, S., Lee, N. C., Howard-Jones, P., & Jolles, J. (2012). Neuromyths in education: Prevalence and predictors of misconceptions among teachers. Frontiers in Psychology, 3, 429. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2012.00429
- Rogowsky, B. A., Calhoun, B. M., & Tallal, P. (2015). Matching learning style to instructional method: Effects on comprehension. Journal of Educational Psychology, 107(1), 64–78. https://doi.org/10.1037/a0037478
- Knoll, A. R., Otani, H., Skeel, R. L., & Van Horn, K. R. (2017). Learning style, judgements of learning, and learning of verbal and visual information. British Journal of Psychology, 108(3), 544–563. https://doi.org/10.1111/bjop.12214
- Aslaksen, K., & Lorås, H. (2024). Is it really a neuromyth? A meta-analysis of the learning styles matching hypothesis. Frontiers in Psychology. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1428732
- Howard-Jones, P. A. (2014). Neuroscience and education: Myths and messages. Nature Reviews Neuroscience, 15(12), 817–824. https://doi.org/10.1038/nrn3817
- Rogowsky, B. A. et al. (2018). Matching learning modality to learning style doesn’t help. Journal of Educational Psychology. https://doi.org/10.1037/a0037478
- Fleming, N. D. (2001). Teaching and Learning Styles: VARK Strategies. Christchurch, New Zealand: Neil Fleming.
- Kementerian Pendidikan – Unesa FIP. Mitos Gaya Belajar Visual, Auditori, Kinestetik (VAK) Mulai Ditinggalkan Sekolah Progresif. https://s2dikdas.fip.unesa.ac.id/post/mitos-gaya-belajar-visual-auditori-kinestetik-vak-mulai-ditinggalkan-sekolah-progresif
- Unesa KTP FIP. Asesmen Gaya Belajar sebagai Mitos: Mengembalikan Pembelajaran dan Penelitian berbasis Empiris. https://ktp.fip.unesa.ac.id/post/asesmen-gaya-belajar-sebagai-mitos-mengembalikan-pembelajaran-dan-penelitian-berbasis-empiris










