Memilih Narasumber dengan Tujuan yang Jelas, Bukan Asal Kenal: Panduan Purposive Sampling

Peneliti memilih narasumber berdasarkan kriteria dan tujuan penelitian dalam proses purposive sampling.

Banyak mahasiswa yang memilih narasumber untuk skripsi berdasarkan siapa yang mudah ditemui atau siapa yang bersedia diwawancara. Akibatnya, data yang terkumpul terasa dangkal, tidak menjawab rumusan masalah secara tajam, dan dosen pembimbing mempertanyakan validitas penelitian sejak awal sidang. Masalah ini bukan soal kemalasan, tapi soal pemahaman yang kurang tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan “sampel yang tepat.”

Purposive sampling hadir sebagai jawaban atas persoalan itu. Teknik ini memungkinkan peneliti memilih narasumber atau responden berdasarkan pertimbangan yang jelas dan relevan dengan tujuan penelitian, bukan berdasarkan kebetulan atau kemudahan akses. Jika dipahami dan dijalankan dengan benar, teknik ini justru memperkuat penelitian, bukan memperlemahnya.

Panduan ini akan menjelaskan purposive sampling dari dasar hingga praktik, termasuk cara menyusun kriteria yang diterima dosen, contoh dari berbagai bidang, dan cara menjawab pertanyaan penguji saat sidang.

Purposive Sampling Itu Bukan Berarti Asal Pilih

Ada kesalahpahaman yang cukup umum di kalangan mahasiswa: karena purposive sampling tidak menggunakan seleksi acak, sebagian orang mengira teknik ini berarti peneliti bisa memilih siapa saja yang disukai atau yang paling mudah dijangkau. Anggapan ini keliru dan bisa merusak kualitas penelitian secara keseluruhan.

Purposive sampling, yang juga dikenal sebagai judgmental sampling, adalah teknik pemilihan sampel secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Menurut Saunders, Lewis, dan Thornhill (2009), teknik ini digunakan ketika peneliti ingin mendapatkan pemahaman mendalam tentang suatu fenomena dengan memilih sampel yang secara selektif memiliki pengetahuan, pengalaman, atau karakteristik yang dibutuhkan penelitian.

Kata kuncinya ada di sini: sengaja dan kriteria. Bukan sembarang pilih, tapi pilih dengan alasan yang bisa dijelaskan dan dipertanggungjawabkan secara akademis.

Kenapa Tidak Semua Penelitian Cocok Pakai Metode Acak

Dalam penelitian kuantitatif dengan populasi yang besar dan homogen, metode acak (random sampling) memang ideal karena setiap anggota populasi punya peluang yang sama untuk dipilih. Hasilnya bisa digeneralisasi ke seluruh populasi.

Tapi penelitian tidak selalu bekerja seperti itu. Bayangkan seorang mahasiswa yang meneliti pengalaman wirausahawan perempuan muda dalam mengakses modal usaha di daerah terpencil. Jika ia memilih responden secara acak dari daftar penduduk, kemungkinan besar yang terpilih bukan wirausahawan perempuan muda, bukan dari daerah terpencil, bahkan mungkin tidak pernah mengajukan modal usaha sama sekali.

Dalam situasi seperti ini, keacakan justru kontraproduktif. Yang dibutuhkan bukan representasi populasi umum, tapi akses ke informan yang benar-benar relevan. Di sinilah purposive sampling menjadi pilihan yang lebih tepat secara metodologis.

Sugiyono menjelaskan purposive sampling sebagai teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan itu bukan selera peneliti, tapi kebutuhan penelitian yang sudah dirumuskan dalam tujuan dan rumusan masalah.

Perbedaan Purposive Sampling dengan Teknik Non-Acak Lainnya

Purposive sampling bukan satu-satunya teknik non-acak (non-probability sampling). Penting untuk memahami perbedaannya agar tidak salah menerapkan atau salah menyebut di skripsi.

TeknikDasar PemilihanCocok Untuk
Purposive SamplingKriteria spesifik yang ditentukan penelitiPenelitian kualitatif yang membutuhkan informan dengan karakteristik tertentu
Accidental SamplingSiapa yang kebetulan ada dan tersediaSurvei cepat, eksplorasi awal, penelitian dengan keterbatasan waktu
Snowball SamplingReferensi dari satu informan ke informan lainPopulasi tersembunyi atau sulit dijangkau langsung
Quota SamplingMemenuhi kuota jumlah berdasarkan kategori tertentuSurvei yang butuh proporsi demografis tertentu

Perbedaan paling penting antara purposive dan accidental sampling adalah intensi. Purposive sampling dimulai dari “siapa yang paling relevan dengan tujuan penelitian ini?” Accidental sampling dimulai dari “siapa yang bisa saya temui sekarang?” Keduanya non-acak, tapi alasannya sangat berbeda.

Bagaimana Kriteria Menjadi Kunci Utama dalam Teknik Ini

Kekuatan purposive sampling terletak sepenuhnya pada kualitas kriteria yang disusun peneliti. Kriteria yang lemah, terlalu umum, atau tidak relevan dengan tujuan penelitian akan membuat teknik ini kehilangan fungsinya. Sebaliknya, kriteria yang tajam dan logis menjadi bukti bahwa peneliti memahami apa yang ia teliti.

Baca Juga:  Ini Dia Cara Membuat Kalimat Topik dengan Mudah dan Cepat!

Dalam konteks akademis, kriteria dibagi menjadi dua jenis: kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Keduanya harus dirumuskan sebelum pengambilan data dimulai dan dituliskan secara eksplisit di Bab 3.

Kriteria Inklusi: Syarat yang Harus Dipenuhi Narasumber

Kriteria inklusi adalah daftar syarat yang wajib dipenuhi oleh seseorang agar bisa ditetapkan sebagai narasumber atau responden dalam penelitian. Setiap calon informan yang tidak memenuhi satu saja dari syarat ini tidak dapat diikutsertakan, sekuat apa pun relasi personal peneliti dengan orang tersebut.

Kriteria inklusi yang baik bersifat spesifik, terukur, dan langsung terhubung dengan tujuan penelitian. Contoh yang terlalu umum seperti “pernah bekerja di perusahaan” tidak memberikan banyak nilai. Sementara kriteria seperti “telah bekerja sebagai manajer di perusahaan manufaktur minimal dua tahun” jauh lebih kuat karena menunjukkan kedekatan informan dengan fenomena yang diteliti.

Beberapa contoh kriteria inklusi yang baik:

  • Untuk penelitian tentang loyalitas pelanggan e-commerce: responden adalah pengguna yang telah melakukan pembelian di platform yang sama minimal empat kali dalam enam bulan terakhir dan berdomisili di wilayah perkotaan.
  • Untuk penelitian tentang burnout pada guru: informan adalah guru yang telah mengajar minimal tiga tahun di sekolah negeri dan aktif mengajar pada saat penelitian berlangsung.
  • Untuk penelitian tentang strategi UMKM pasca pandemi: narasumber adalah pemilik usaha yang telah beroperasi sebelum tahun 2020, sempat mengalami penurunan omzet lebih dari 30%, dan masih beroperasi hingga waktu penelitian.

Perhatikan bahwa setiap kriteria punya alasan logis yang bisa dijelaskan. Itu yang membuat penelitian bisa dipertanggungjawabkan.

Kriteria Eksklusi: Siapa yang Harus Dikeluarkan dari Daftar Sampel

Kriteria eksklusi adalah kebalikan dari inklusi. Ini adalah daftar kondisi yang menyebabkan seseorang dikeluarkan dari daftar calon sampel, meskipun secara umum ia tampak memenuhi kriteria inklusi.

Fungsi kriteria eksklusi bukan untuk mempersulit, tapi untuk menjaga konsistensi dan kemurnian data. Misalnya, dalam penelitian tentang pengalaman mahasiswa baru beradaptasi di lingkungan kampus, peneliti mungkin mengecualikan mahasiswa yang sebelumnya sudah pernah kuliah di universitas lain. Alasannya, pengalaman mereka sudah tidak murni sebagai mahasiswa baru.

Contoh kriteria eksklusi yang relevan:

  • Untuk penelitian loyalitas pelanggan: mengecualikan responden yang bekerja sebagai affiliator atau reseller di platform tersebut, karena motivasi pembelian mereka berbeda dengan konsumen biasa.
  • Untuk penelitian burnout guru: mengecualikan guru yang sedang menjalani cuti panjang pada saat penelitian berlangsung.
  • Untuk penelitian UMKM: mengecualikan usaha yang baru berdiri setelah tahun 2020, karena tidak memiliki pengalaman sebelum dan sesudah pandemi yang menjadi fokus penelitian.

Cara Merumuskan Kriteria yang Kuat dan Bisa Dipertanggungjawabkan

Merumuskan kriteria bukan soal menulis daftar panjang. Kriteria yang terlalu banyak justru bisa membuat peneliti kesulitan menemukan informan yang memenuhi semua syarat sekaligus. Kuncinya adalah relevansi, bukan kuantitas.

Gunakan alur berpikir ini saat merumuskan kriteria:

  • Mulai dari tujuan penelitian. Apa yang ingin dijawab? Fenomena atau situasi apa yang sedang diteliti? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan profil informan yang paling relevan.
  • Identifikasi karakteristik utama yang wajib dimiliki informan. Pikirkan: jika informan tidak memiliki karakteristik ini, apakah datanya masih berguna? Jika tidak, masukkan ke inklusi.
  • Identifikasi kondisi yang bisa mencemari atau mendistorsi data. Kondisi inilah yang masuk ke eksklusi.
  • Uji logika setiap kriteria. Tanyakan pada diri sendiri: “Kenapa syarat ini penting?” Jika tidak bisa dijawab dengan jelas, kriteria itu mungkin tidak diperlukan.
  • Tulis dalam bahasa yang terukur. Hindari kata-kata seperti “berpengalaman” tanpa penjelasan lebih lanjut. Ganti dengan “memiliki pengalaman minimal dua tahun di bidang X.”

Kapan Purposive Sampling Tepat Digunakan dan Kapan Tidak

Memahami kapan harus menggunakan purposive sampling sama pentingnya dengan memahami cara menggunakannya. Teknik ini bukan solusi universal yang cocok untuk semua jenis penelitian.

Situasi di Mana Peneliti Sebaiknya Memilih Teknik Ini

Purposive sampling paling efektif digunakan ketika:

  • Penelitian bertujuan memahami pengalaman atau perspektif mendalam dari kelompok tertentu. Misalnya, penelitian tentang bagaimana orang tua tunggal mengelola tekanan kerja dan pengasuhan anak sekaligus. Tidak semua orang relevan, hanya mereka yang benar-benar hidup dalam situasi itu.
  • Populasi yang relevan terbatas jumlahnya atau sulit dijangkau. Ketika tidak ada daftar populasi yang lengkap atau ketika kelompok yang diteliti tidak tersebar luas, seleksi acak menjadi tidak praktis bahkan tidak mungkin.
  • Penelitian bersifat kualitatif atau eksploratif. Studi kasus, fenomenologi, grounded theory, dan penelitian deskriptif kualitatif hampir selalu menggunakan purposive sampling karena yang dicari adalah kedalaman, bukan keterwakilan statistik.
  • Peneliti membutuhkan informan dengan keahlian atau posisi tertentu. Jika yang diperlukan adalah perspektif dari praktisi berpengalaman, pemimpin organisasi, atau ahli di bidang tertentu, purposive sampling memungkinkan peneliti menargetkan kelompok tersebut secara langsung.

Kondisi yang Membuat Teknik Ini Kurang Cocok Dipakai

Purposive sampling tidak disarankan ketika:

  • Penelitian membutuhkan hasil yang dapat digeneralisasi ke seluruh populasi. Jika tujuannya adalah membuat kesimpulan statistik yang berlaku umum, random sampling jauh lebih tepat.
  • Peneliti ingin mengukur distribusi atau proporsi suatu karakteristik dalam populasi. Misalnya, berapa persen konsumen yang puas dengan layanan tertentu. Untuk ini, survei dengan sampel acak lebih relevan.
  • Tidak ada kriteria yang jelas yang bisa dirumuskan. Jika peneliti tidak bisa menjelaskan mengapa seseorang lebih layak menjadi informan dibanding orang lain, teknik ini tidak bisa dijalankan dengan benar.
Baca Juga:  Astronomi, Salah satu ilmu pengetahuan tertua di dunia

Contoh Penerapan Purposive Sampling di Berbagai Jenis Penelitian

Memahami contoh nyata dari berbagai bidang membantu peneliti melihat bagaimana teknik ini bekerja dalam praktik, bukan hanya di atas kertas.

Contoh dalam Penelitian Kualitatif Ilmu Sosial dan Komunikasi

Seorang mahasiswa komunikasi meneliti strategi komunikasi brand lokal di media sosial dalam membangun loyalitas konsumen muda. Purposive sampling digunakan untuk memilih informan dengan kriteria:

Kriteria Inklusi:

  • Pengelola akun media sosial resmi brand lokal (bukan agensi eksternal)
  • Brand telah aktif di media sosial minimal dua tahun
  • Akun memiliki minimal 10.000 pengikut di salah satu platform

Kriteria Eksklusi:

  • Brand yang mayoritas anggaran promosinya dikelola oleh agensi pihak ketiga
  • Brand yang sedang dalam proses rebranding pada periode penelitian

Informan dipilih dari tiga brand berbeda dengan skala dan kategori produk yang beragam, untuk mendapatkan variasi perspektif yang cukup kaya.

Contoh dalam Penelitian Manajemen dan Bisnis

Seorang mahasiswa manajemen meneliti dampak gaya kepemimpinan transformasional terhadap kinerja tim di era kerja jarak jauh. Informan yang relevan bukan sembarang karyawan, melainkan:

Kriteria Inklusi:

  • Memangku posisi manajer atau team leader minimal dua tahun
  • Memimpin tim yang bekerja sepenuhnya atau sebagian besar secara remote sejak 2020
  • Masih aktif memimpin tim pada periode penelitian

Kriteria Eksklusi:

  • Manajer yang timnya kembali bekerja penuh dari kantor sebelum penelitian berlangsung
  • Manajer yang baru memangku posisi tersebut dalam enam bulan terakhir (belum punya cukup pengalaman untuk dijadikan dasar analisis)

Contoh dalam Penelitian Pendidikan

Seorang mahasiswa pendidikan meneliti persepsi guru terhadap implementasi kurikulum baru di sekolah dasar negeri.

Kriteria Inklusi:

  • Guru kelas aktif di sekolah dasar negeri
  • Telah mengajar minimal satu tahun ajaran penuh menggunakan kurikulum baru
  • Bersedia mengikuti sesi wawancara mendalam

Kriteria Eksklusi:

  • Guru yang baru bergabung dan belum menjalani satu semester penuh dengan kurikulum baru
  • Kepala sekolah atau wakasek yang tidak langsung mengajar di kelas

Contoh di atas menunjukkan pola yang konsisten: kriteria selalu kembali pada tujuan penelitian dan fenomena yang sedang diteliti.

Soal Jumlah Sampel yang Sering Membuat Mahasiswa Bingung

Salah satu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika mahasiswa menggunakan purposive sampling adalah: “Berapa jumlah informan yang cukup?” Pertanyaan ini wajar, tapi jawabannya tidak bisa dijawab dengan angka pasti seperti saat menggunakan rumus Slovin.

Kenapa Tidak Ada Rumus Pasti untuk Purposive Sampling

Purposive sampling tidak dirancang untuk mengukur berapa banyak, melainkan seberapa dalam. Dalam penelitian kualitatif, kualitas informasi dari satu informan yang tepat bisa jauh lebih bernilai daripada data dari dua puluh responden yang tidak relevan.

Tidak ada rumus matematis baku yang menentukan jumlah minimum sampel dalam purposive sampling. Yang ada adalah panduan berbasis logika penelitian. Creswell menyarankan bahwa dalam studi fenomenologi, lima hingga dua puluh lima partisipan sudah dapat dianggap memadai. Studi kasus tunggal bahkan bisa berjalan hanya dengan satu atau beberapa kasus yang kaya informasi.

Yang lebih penting dari jumlah adalah apakah informan yang dipilih benar-benar memiliki pengalaman atau pengetahuan yang relevan dengan fenomena yang diteliti.

Kapan Peneliti Bisa Berhenti Menambah Narasumber

Dalam penelitian kualitatif, peneliti bisa berhenti menambah informan ketika mencapai kondisi yang disebut saturasi data (data saturation). Saturasi terjadi ketika informan baru yang diwawancara tidak lagi memberikan informasi atau perspektif yang berbeda dari yang sudah diperoleh sebelumnya.

Ini bukan soal kemalasan, ini adalah standar metodologis yang diakui. Lincoln dan Guba menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, yang dicari adalah transferability, yaitu sejauh mana temuan penelitian bisa dipahami dan diterapkan dalam konteks lain yang serupa, bukan generalisasi statistik.

Implikasinya: ketika menjawab pertanyaan dosen tentang jumlah informan, peneliti bisa menyebut angka dan menjelaskan bahwa jumlah tersebut ditentukan berdasarkan pertimbangan kelengkapan data dan tercapainya saturasi informasi.

Banyak Mahasiswa Memilih Narasumber Berdasarkan Kemudahan Akses, Bukan Relevansi

Ini adalah masalah yang sangat umum tapi jarang dibahas secara langsung. Mahasiswa memilih narasumber berdasarkan siapa yang kenal, siapa yang tinggal dekat, atau siapa yang paling mudah dihubungi. Secara teknis, mereka menyebutnya purposive sampling di Bab 3, tapi kenyataannya lebih mendekati accidental sampling.

Mengapa Ini Bisa Melemahkan Penelitian

Ketika narasumber dipilih bukan karena relevansi tapi karena kemudahan, data yang terkumpul berisiko tidak menjawab rumusan masalah secara tajam. Informan mungkin tidak memiliki pengalaman langsung dengan fenomena yang diteliti. Mereka mungkin hanya tahu secara umum, bukan dari pengalaman nyata.

Baca Juga:  5 Langkah Mudah untuk Menulis Kalimat Topik yang Kuat

Hasilnya, analisis di Bab 4 terasa dangkal. Temuan tidak kaya. Dan dosen pembimbing akan menangkap ini dari cara peneliti mendeskripsikan data.

Lebih jauh, jika peneliti tidak bisa menjelaskan dengan logis mengapa seseorang dipilih sebagai informan, itu pertanda bahwa kriteria inklusinya tidak dirumuskan dengan benar sejak awal. Dosen penguji yang berpengalaman biasanya bisa melihat ini dari cara penulisan Bab 3.

Tanda-Tanda Kriteria yang Terlalu Lemah dan Cara Memperbaikinya

Kriteria yang lemah biasanya terlihat dari ciri-ciri berikut:

  • Terlalu umum. Contoh: “informan adalah karyawan perusahaan.” Hampir semua orang dewasa yang bekerja di perusahaan memenuhi kriteria ini. Tidak ada seleksi yang bermakna.
  • Tidak terhubung dengan tujuan penelitian. Jika penelitian tentang manajemen konflik antar departemen, kriteria “bekerja di perusahaan minimal satu tahun” tidak cukup tanpa menambahkan bahwa informan harus pernah terlibat langsung dalam situasi konflik lintas departemen.
  • Tidak bisa diverifikasi. Kriteria seperti “memiliki wawasan luas tentang industri” tidak bisa diuji secara objektif.

Cara memperbaikinya cukup sistematis:

  • Kembali ke rumusan masalah dan tujuan penelitian.
  • Identifikasi karakteristik apa yang membuat seseorang benar-benar memahami fenomena yang diteliti.
  • Tuliskan kriteria dalam bahasa yang spesifik dan bisa diverifikasi.
  • Tanya diri sendiri: “Apakah ada orang yang memenuhi semua kriteria ini tapi tetap tidak relevan dengan penelitian saya?” Jika ada, tambahkan kriteria yang lebih spesifik.

Cara Menuliskan Purposive Sampling di Bab 3 Skripsi

Memahami purposive sampling secara konseptual satu hal. Menuliskannya di skripsi agar lolos revisi dosen adalah hal lain. Bagian ini membahas keduanya sekaligus.

Bagian yang Harus Ada di Sub-bab Teknik Pengambilan Sampel

Sub-bab teknik pengambilan sampel di Bab 3 sebaiknya mencakup:

  • Nama teknik dan definisinya (disertai kutipan dari sumber akademik yang relevan seperti Sugiyono atau Creswell).
  • Alasan menggunakan teknik ini untuk penelitian yang sedang dilakukan, bukan hanya pengertian umum.
  • Daftar kriteria inklusi yang ditulis secara eksplisit dalam poin-poin terpisah.
  • Daftar kriteria eksklusi yang ditulis dengan format yang sama.
  • Jumlah informan yang ditetapkan beserta penjelasan singkat mengapa jumlah tersebut dianggap memadai.

Kelima elemen ini yang membuat sub-bab ini terasa metodologis dan terstruktur, bukan sekadar formalitas.

Contoh Penulisan Kriteria yang Biasanya Lolos Revisi Dosen

Berikut adalah contoh penulisan purposive sampling di Bab 3 untuk penelitian tentang pengalaman kerja hybrid pada karyawan generasi Z:

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu teknik pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2019). Teknik ini dipilih karena penelitian bertujuan memahami pengalaman kerja hybrid dari perspektif karyawan yang benar-benar menjalani sistem tersebut, sehingga dibutuhkan informan dengan karakteristik yang spesifik.

Kriteria inklusi:

  • Karyawan tetap atau kontrak yang lahir antara tahun 1997 hingga 2005
  • Telah menjalani sistem kerja hybrid (sebagian dari kantor, sebagian dari rumah) minimal enam bulan
  • Bekerja di perusahaan swasta yang beroperasi di sektor jasa atau teknologi

Kriteria eksklusi:

  • Karyawan yang bekerja sepenuhnya dari kantor atau sepenuhnya dari rumah tanpa sistem hybrid
  • Karyawan yang baru bergabung dengan perusahaan dalam tiga bulan terakhir

Berdasarkan kriteria tersebut, peneliti menetapkan delapan informan sebagai sampel penelitian. Jumlah ini ditentukan berdasarkan pertimbangan kedalaman data dan tercapainya saturasi informasi selama proses pengumpulan data.

Format seperti ini menunjukkan bahwa peneliti paham metodologi, bukan sekadar menyalin definisi dari buku teks.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Dosen Penguji dan Cara Menjawabnya

Ada beberapa pertanyaan yang hampir selalu muncul dalam sidang proposal atau skripsi ketika peneliti menggunakan purposive sampling. Mempersiapkan jawaban yang logis dan akademis untuk pertanyaan ini akan membuat sidang berjalan jauh lebih lancar.

“Kenapa Anda menggunakan purposive sampling, bukan random sampling?”

Jawaban yang baik: “Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman spesifik dari kelompok tertentu, yaitu [sebutkan kelompok]. Untuk mendapatkan data yang relevan dan mendalam, diperlukan informan yang benar-benar memiliki pengalaman langsung dengan fenomena yang diteliti. Random sampling tidak dapat menjamin hal itu karena tidak semua anggota populasi memiliki karakteristik yang relevan dengan tujuan penelitian ini.”

“Berapa jumlah sampel yang Anda gunakan dan apa alasannya?”

Jawaban yang baik: “Penelitian ini menggunakan delapan informan. Jumlah ini ditentukan berdasarkan pertimbangan bahwa dalam penelitian kualitatif, kecukupan sampel tidak diukur dari jumlah, melainkan dari kedalaman informasi yang diperoleh. Pengumpulan data dihentikan ketika tidak ada informasi baru yang muncul dari wawancara tambahan, atau yang dikenal sebagai saturasi data.”

“Apakah sampel Anda representatif?”

Jawaban yang baik: “Dalam penelitian kualitatif, tujuannya bukan representasi statistik melainkan transferability, yaitu kedalaman pemahaman yang dapat dipahami dan relevan dalam konteks serupa. Penelitian ini tidak bertujuan menggeneralisasi hasil ke seluruh populasi, melainkan memahami fenomena secara mendalam dari perspektif kelompok yang relevan.”

Purposive Sampling Bukan Teknik yang Perlu Diragukan, Asal Digunakan dengan Benar

Purposive sampling bukan teknik penelitian kelas dua yang hanya digunakan karena tidak mampu melakukan random sampling. Dalam konteks penelitian kualitatif, studi kasus, dan penelitian eksploratori, purposive sampling justru merupakan pilihan metodologis yang paling logis dan paling tepat.

Yang membedakan penelitian yang kuat dari yang lemah bukan teknik samplingnya, tapi bagaimana peneliti merumuskan kriteria, menjelaskan alasan pemilihan, dan menghubungkan semua itu dengan tujuan penelitian yang sudah ditetapkan sejak awal. Dosen pembimbing dan penguji tidak mempertanyakan teknik ini karena lemah. Mereka mempertanyakannya ketika kriteria yang dirumuskan tidak cukup spesifik atau ketika alasan pemilihan tidak bisa dijelaskan dengan logis.

Jika dari awal kriteria sudah disusun dengan baik, jumlah informan sudah dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan data, dan penulisan di Bab 3 sudah mencakup semua elemen yang diperlukan, teknik ini bisa menjadi fondasi metodologis yang solid untuk penelitian apa pun.

Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan sekarang: kembali ke tujuan penelitian, rumuskan profil informan ideal berdasarkan fenomena yang diteliti, lalu susun kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan panduan di artikel ini. Itu titik awal yang paling konkret.

REFERENSI

Konten menarik lain:​
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted