Sitasi AI di Skripsi Ternyata Ada Dua Cara yang Sering Tertukar

Mahasiswa membandingkan dua cara sitasi AI saat mengerjakan skripsi di meja belajar rumah.

Banyak mahasiswa panik begitu dosen pembimbing bertanya, “ini hasil AI ya, sudah dikutip belum?” Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya sering bikin bingung karena ada dua situasi yang sebenarnya berbeda jauh. Pertama, kamu benar-benar mengutip kalimat atau penjelasan yang dihasilkan AI. Kedua, kamu memakai AI hanya untuk menemukan jurnal atau buku, lalu yang dikutip adalah sumber aslinya, bukan AI-nya.

Kalau dua hal ini tercampur, akibatnya bisa runyam. Ada mahasiswa yang mengutip AI seolah AI adalah penulis jurnal, padahal seharusnya yang dicantumkan adalah perusahaan pembuatnya. Ada juga yang menyalin sitasi mentah dari AI tanpa memeriksa apakah jurnal itu benar-benar ada, lalu draft dikembalikan karena referensi tidak valid. Kalau dibiarkan, kesalahan ini bukan cuma bikin revisi berkali-kali, tapi juga berisiko dianggap pelanggaran integritas akademik.

Artikel ini akan membedah dua skenario itu satu per satu, memberi format sitasi APA yang bisa langsung kamu tempel ke daftar pustaka, dan menunjukkan kesalahan kecil yang paling sering bikin dosen pembimbing mengembalikan draft.

Mengutip Hasil AI Langsung Berbeda dengan Memakai AI untuk Mencari Sumber

Perbedaan ini kelihatan sepele, tapi menentukan format sitasi yang harus kamu pakai. Kalau kamu mengambil kalimat, penjelasan, atau argumen yang murni keluar dari AI, itu artinya kamu mengutip AI sebagai sumber. Tapi kalau kamu tanya ke AI “carikan jurnal tentang motivasi belajar mahasiswa”, lalu AI menyebut sebuah judul jurnal yang kemudian kamu baca dan kutip sendiri, yang kamu kutip di situ adalah jurnalnya, bukan AI-nya.

Masalahnya, AI kadang menyebut jurnal atau data yang sebenarnya tidak pernah ada. Fenomena ini dikenal sebagai halusinasi AI, dan menurut penjelasan dari perguruan tinggi seperti Universitas Medan Area, mahasiswa perlu waspada terhadap potensi ini dan selalu memverifikasi keakuratan jawaban yang dihasilkan sebelum dipakai.

Kapan Kamu Sebenarnya Sedang Mengutip AI Itu Sendiri

Situasi ini terjadi kalau isi yang kamu pakai memang orisinal dari AI, bukan hasil pencarian ke sumber lain. Contohnya:

  • AI merangkum sebuah teori dengan kalimatnya sendiri, dan kamu memasukkan rangkuman itu ke dalam tulisanmu
  • AI memberi analisis atau opini terhadap sebuah kasus, dan kamu mengutip analisis tersebut
  • AI membantu merumuskan definisi operasional, lalu kamu menuliskannya ulang dengan menyebut AI sebagai sumber ide
Baca Juga:  Bingung Pakai Data Primer atau Sekunder, Begini Cara Menentukannya

Dalam ketiga kondisi ini, yang harus kamu cantumkan di daftar pustaka adalah nama perusahaan pembuat AI, bukan judul jurnal atau nama penulis manusia, karena memang tidak ada penulis manusia di baliknya.

Kapan AI Hanya Jadi Alat Bantu Menemukan Sumber Asli

Situasi ini lebih sering terjadi daripada yang disadari kebanyakan mahasiswa. Kamu menanyakan topik ke AI, AI menyebutkan nama peneliti atau judul buku, lalu kamu mencari sendiri sumber itu di Google Scholar atau perpustakaan kampus. Begitu sumber itu ketemu dan benar-benar ada, yang kamu kutip di teks adalah penulis aslinya, lengkap dengan tahun terbit dan halaman kalau perlu.

Di sinilah letak kesalahan yang paling sering terjadi. Banyak mahasiswa terburu-buru menyalin judul yang disebut AI tanpa mengeceknya lebih dulu, padahal artikel dari RUANG DOSEN dengan jelas mengingatkan agar setiap sitasi hasil AI selalu diverifikasi secara manual di Google Scholar, Scopus, atau DOI asli, dan jangan pernah mengutip paper yang belum pernah diperiksa keberadaannya.

Kenapa AI Tidak Bisa Diperlakukan Seperti Penulis Jurnal Biasa

Kalau kamu terbiasa menulis sitasi untuk jurnal, insting pertamamu mungkin mencari “siapa penulisnya” saat mengutip AI. Masalahnya, AI bukan individu yang bisa dianggap bertanggung jawab atas isi tulisannya. Tim APA Style sendiri menjelaskan bahwa hasil kutipan teks dari ChatGPT lebih tepat diperlakukan seperti berbagi output sebuah algoritma, sehingga yang diberi kredit dalam entri referensi adalah pembuat algoritma tersebut, bukan seolah-olah AI adalah individu yang berkomunikasi langsung denganmu.

Perbedaan ini penting karena memengaruhi format penulisan nama penulis di daftar pustaka. Kamu tidak menulis “ChatGPT, T.” seperti menulis nama belakang seorang peneliti. Yang kamu tulis adalah nama perusahaan sebagai penulis institusional.

Perusahaan Pembuat AI yang Dicantumkan, Bukan AI-nya

Aturan ini konsisten di berbagai gaya sitasi. Panduan dari RMIT University, yang menyesuaikan gaya Harvard mereka dengan pedoman APA terbaru untuk konten hasil AI, menegaskan bahwa nama pembuat alat AI digunakan sebagai penulis, dan mencantumkan tanggal konten dihasilkan beserta URL yang bisa dibagikan kalau tersedia.

Untuk ChatGPT misalnya, yang dicantumkan sebagai penulis adalah OpenAI. Kalau kamu memakai Gemini, yang dicantumkan Google. Pola ini berlaku sama untuk hampir semua tools AI generatif, karena secara hukum dan etika akademik, perusahaan itulah yang bertanggung jawab atas sistem yang menghasilkan teks tersebut.

Format Sitasi APA yang Bisa Langsung Kamu Pakai

Bagian ini fokus ke format APA karena paling umum dipakai di kampus Indonesia untuk bidang sosial, pendidikan, dan psikologi. Kalau jurusanmu memakai IEEE, konsep dasarnya sama, hanya format penomorannya yang berbeda.

Baca Juga:  Gap Penelitian Adalah: Pengertian, Jenis, Cara Menemukan, dan Contoh Penulisan di Skripsi

Ada dua bagian yang perlu kamu isi, yaitu kutipan singkat di dalam teks dan entri lengkap di daftar pustaka.

Contoh Kutipan dalam Teks untuk Hasil Percakapan AI

Untuk kutipan dalam teks, formatnya menyerupai sitasi karya tanpa penulis individu, dengan nama perusahaan dan tahun sebagai penanda. Contohnya:

Ketika diberi pertanyaan lanjutan mengenai konsep kerja sama tim, AI menjelaskan bahwa efektivitas tim sangat dipengaruhi oleh kejelasan peran masing-masing anggota (OpenAI, 2026).

Perhatikan bahwa penjelasan di atas berdiri sendiri dan bisa dipahami tanpa harus membaca paragraf sebelumnya. Ini penting bukan cuma untuk pembaca, tapi juga supaya poin utamamu tetap jelas kalau dosen membaca sepotong-sepotong saat memeriksa draft.

Contoh Entri di Daftar Pustaka

Untuk daftar pustaka, entrinya mengikuti pola penulis institusional, tahun, judul karya dalam kurung siku yang menjelaskan jenisnya, dan sumber. Berikut polanya beserta contohnya.

ElemenIsi
PenulisNama perusahaan pembuat AI
TahunTahun konten dihasilkan
JudulNama produk AI, diikuti keterangan jenis dalam kurung siku
SumberURL tempat AI diakses

Contoh lengkapnya seperti ini:

OpenAI. (2026). ChatGPT (versi Agustus) [Model bahasa besar]. https://chat.openai.com/chat

Kalau kamu memakai AI untuk membantu mencari sumber dan yang benar-benar dikutip adalah jurnal aslinya, entri daftar pustaka mengikuti format jurnal biasa, sama sekali tidak menyebut AI di dalamnya, karena AI hanya berperan sebagai alat bantu pencarian, bukan sumber informasi.

Dosen Pembimbing Sering Mengembalikan Draft Karena Kesalahan Kecil Ini

Sebagian besar revisi yang berkaitan dengan sitasi AI bukan soal formatnya salah total, tapi soal detail kecil yang terlewat. Dua kesalahan berikut paling sering muncul di draft mahasiswa.

Menyalin Sitasi AI Tanpa Verifikasi ke Sumber Asli

Ini kesalahan yang paling berisiko. Kalau AI menyebutkan sebuah jurnal lengkap dengan nama penulis dan tahun terbit, lalu kamu langsung menyalinnya ke daftar pustaka tanpa mengecek apakah jurnal itu benar-benar ada, kamu berisiko mencantumkan referensi fiktif. Panduan dari PapersFlow mengingatkan bahwa sitasi otomatis tetap perlu diperiksa, terutama untuk sumber berbahasa Indonesia yang metadatanya sering tidak lengkap.

Cara paling aman adalah selalu menempelkan judul yang disebut AI ke Google Scholar sebelum menuliskannya di daftar pustaka. Kalau judulnya muncul dengan penulis dan tahun yang sama, referensi itu aman dipakai. Kalau tidak muncul sama sekali, jangan dicantumkan.

Lupa Mencantumkan Tanggal Akses Percakapan

Berbeda dari jurnal yang isinya tetap sama kapan pun diakses, percakapan dengan AI bisa berubah setiap kali kamu bertanya ulang, bahkan dengan pertanyaan yang sama persis. Karena itu, tanggal kamu mengakses percakapan tersebut menjadi bagian penting dari sitasi, bukan sekadar pelengkap.

Beberapa kampus bahkan meminta lampiran transkrip percakapan AI di bagian apendiks, terutama kalau AI dipakai untuk bagian metode penelitian. Panduan dari RMIT menyebutkan bahwa kalau konten tidak bisa dibagikan lewat tautan, prompt dan hasil yang dihasilkan sebaiknya dilampirkan langsung di apendiks.

Baca Juga:  Memilih Teknik Pengumpulan Data yang Tepat: Kunci Kesuksesan Penelitian

Kapan Sebaiknya Kamu Menelusuri ke Google Scholar Dulu Sebelum Mengutip

Tidak semua interaksi dengan AI perlu berujung pada verifikasi manual, tapi ada beberapa situasi yang sebaiknya tidak kamu lewati begitu saja.

  • AI menyebutkan angka atau data statistik spesifik. Data seperti persentase atau hasil penelitian numerik paling rawan halusinasi, jadi selalu telusuri sumber aslinya sebelum dipakai di bab hasil penelitian.
  • AI menyebutkan nama peneliti dan tahun terbit secara spesifik. Kalau kombinasi nama dan tahunnya terdengar meyakinkan tapi kamu belum pernah membaca sumbernya, itu justru tanda untuk mengeceknya lebih dulu.
  • Konten AI akan dipakai di bagian tinjauan pustaka atau landasan teori. Bagian ini biasanya paling banyak diperiksa dosen pembimbing, sehingga akurasi sumbernya harus benar-benar terjamin.
  • AI dipakai untuk merumuskan definisi konsep inti penelitianmu. Definisi yang keliru di awal bisa memengaruhi seluruh kerangka berpikir skripsimu.

Kalau situasi di luar keempat hal ini, misalnya AI membantu merapikan tata bahasa atau menyusun outline, verifikasi seketat itu biasanya tidak diperlukan, karena kamu tidak sedang mengutip klaim faktual dari AI.

Aturan Kampus di Indonesia Belum Tentu Sama dengan Panduan APA Bawaan

Panduan APA, MLA, atau IEEE memang jadi acuan umum, tapi banyak kampus di Indonesia menambahkan aturan sendiri soal penggunaan AI yang tidak selalu sejalan persis dengan panduan internasional tersebut. Sebagian program studi mewajibkan pencantuman keterangan penggunaan AI di halaman pernyataan orisinalitas, terpisah dari daftar pustaka biasa. Sebagian lain membatasi persentase konten yang boleh dibantu AI, atau bahkan menentukan tools AI mana saja yang diizinkan supaya semua mahasiswa memakai standar yang sama.

Sebelum menuliskan sitasi AI di skripsimu, ada baiknya kamu cek tiga hal ini ke dosen pembimbing atau buku panduan skripsi program studimu:

  • Apakah program studi mewajibkan pernyataan tambahan soal penggunaan AI, terpisah dari sitasi biasa
  • Apakah ada batasan tools AI yang boleh dipakai untuk bagian tertentu, misalnya metode penelitian
  • Apakah gaya sitasi yang dipakai kampus memang APA, atau justru gaya lain seperti Vancouver untuk bidang kesehatan

Melewatkan langkah ini sering jadi alasan revisi yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal, karena masalahnya bukan di format sitasimu, tapi di aturan tambahan kampus yang belum kamu penuhi.

Menggunakan Sitasi AI Tanpa Kehilangan Kepercayaan Dosen Pembimbing

Kepercayaan dosen pembimbing terhadap penggunaan AI biasanya terbangun dari seberapa transparan kamu menjelaskan cara memakainya, bukan dari seberapa jarang kamu menyebut AI dalam tulisanmu. Kalau kamu memakai AI untuk membantu merumuskan ide awal atau merapikan struktur kalimat, jelaskan itu secara singkat di bagian metode, bukan disembunyikan seolah tidak pernah dipakai sama sekali.

Kombinasi yang paling aman adalah selalu memisahkan dengan jelas antara kutipan AI itu sendiri dan sumber asli yang ditemukan lewat bantuan AI, memverifikasi setiap klaim faktual sebelum dicantumkan, dan mengikuti aturan tambahan program studimu di atas panduan APA umum. Dengan cara ini, AI berperan sebagai alat bantu yang memperkuat kualitas tulisanmu, bukan sumber masalah yang bikin draft berulang kali dikembalikan.

Referensi

Konten menarik lain:​
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted