Banyak penulis merasa sudah melakukan segalanya dengan benar. Data sudah diolah dengan hati-hati, pembahasan sudah disusun berlapis, dan referensi sudah lengkap. Tapi email penolakan tetap datang, kadang hanya dalam hitungan hari setelah naskah dikirim. Bukan karena reviewer menemukan kelemahan metodologi, melainkan karena naskah bahkan belum sempat sampai ke tangan reviewer.
Situasi ini lebih umum daripada yang dibayangkan kebanyakan penulis pemula. Editor jurnal memiliki waktu terbatas untuk menyaring ratusan naskah masuk setiap bulan, dan salah satu cara tercepat untuk menyaring adalah memeriksa apakah naskah sudah mengikuti format yang diminta. Naskah yang tidak sesuai template biasanya langsung dikembalikan tanpa penjelasan panjang. Artikel ini membahas kenapa hal itu terjadi, di bagian mana kesalahan format paling sering muncul, dan bagaimana menentukan apakah kamu perlu bantuan profesional atau bisa menanganinya sendiri.
Daftar Isi
ToggleNaskah yang Ditolak Sebelum Dibaca Reviewer Biasanya Bukan Soal Isi
Ada asumsi keliru yang cukup umum di kalangan penulis pemula, yaitu menganggap penolakan jurnal selalu berkaitan dengan kualitas riset. Padahal, banyak naskah gugur pada tahap yang jauh lebih awal, sebelum ada satu pun reviewer yang membacanya.
Desk Rejection Terjadi di Meja Editor, Bukan di Tangan Reviewer
Desk rejection adalah penolakan yang dilakukan langsung oleh editor, tanpa melalui proses peer review sama sekali. Editor biasanya melakukan pemeriksaan cepat terhadap kesesuaian topik, kelengkapan dokumen, dan format naskah dalam waktu yang sangat singkat, kadang hanya beberapa menit per naskah. Kalau format tidak sesuai pedoman penulis, naskah langsung dikembalikan pada tahap ini.
Yang membuat proses ini terasa tidak adil bagi banyak penulis adalah kenyataan bahwa isi naskah sama sekali tidak dinilai. Editor tidak sedang menilai apakah metodologimu tepat atau apakah temuanmu penting. Mereka hanya memeriksa apakah naskah ini layak diteruskan ke tahap berikutnya berdasarkan kepatuhan teknis. Semakin banyak jurnal yang diikuti seorang editor, semakin ketat pula standar kepatuhan ini diterapkan karena volume naskah yang harus disaring memang besar.
Font, Spasi, dan Margin yang Salah Bisa Menghentikan Naskah di Tahap Paling Awal
Detail yang terlihat sepele seperti jenis font, ukuran spasi antar baris, dan lebar margin ternyata punya bobot yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Sebagian jurnal mensyaratkan spasi tunggal, sementara jurnal lain justru meminta spasi ganda untuk memudahkan proses review. Mengirimkan naskah dengan pengaturan yang tertukar bisa dianggap sebagai tanda bahwa penulis tidak membaca panduan penulis dengan teliti.
Hal serupa berlaku untuk penomoran halaman dan paragraf. Ketidakkonsistenan di bagian ini memang tidak memengaruhi isi tulisan, tapi bisa membuat naskah terlihat kurang rapi di mata editor yang sedang menilai puluhan naskah lain dalam waktu bersamaan. Kesan pertama yang buruk dari sisi teknis sering kali cukup untuk membuat editor berhenti membaca lebih jauh.
Setiap Jurnal Punya Template Sendiri dan Itu Bukan Sekadar Formalitas
Penulis yang sudah pernah submit ke satu jurnal kadang berasumsi format yang sama bisa dipakai lagi untuk jurnal lain di bidang yang mirip. Asumsi ini keliru dan menjadi salah satu sumber penolakan yang paling sering terjadi.
Gaya Sitasi APA dan Vancouver Tidak Bisa Dipakai Bergantian
APA banyak digunakan di rumpun ilmu sosial dan pendidikan, sementara Vancouver lebih umum dipakai di bidang kedokteran dan kesehatan. Perbedaannya bukan hanya soal tanda baca, tapi juga cara mengurutkan referensi, format penulisan nama penulis, hingga cara mengutip di dalam teks. Menyalin daftar pustaka dari naskah lama tanpa menyesuaikan gaya sitasi sering menghasilkan referensi yang campur aduk, dan ini termasuk kesalahan yang mudah terlihat oleh editor sejak halaman pertama.
Kesalahan gaya sitasi juga berdampak pada proses indeksasi. Jurnal yang terindeks Scopus atau Sinta biasanya memiliki sistem otomatis untuk memvalidasi struktur referensi, dan format yang tidak konsisten bisa membuat proses validasi ini gagal meskipun isi kutipan sebenarnya sudah benar.
Template dari Jurnal Satu Jarang Cocok Dipakai Ulang untuk Jurnal Lain
Setiap jurnal biasanya menyediakan template resmi dalam bentuk file Word atau LaTeX yang bisa diunduh dari halaman author guidelines. Template ini mengatur banyak hal sekaligus, mulai dari struktur judul dan subjudul, jumlah kata maksimal per bagian, hingga cara menampilkan tabel dan gambar. Perbedaan kecil pada satu jurnal, misalnya batas kata abstrak yang hanya 150 kata dibanding jurnal lain yang membolehkan 250 kata, bisa membuat naskah yang sudah jadi perlu disesuaikan ulang secara signifikan.
Berikut beberapa elemen yang paling sering berbeda antar template jurnal dan wajib dicek ulang setiap kali menyasar jurnal baru.
- Struktur heading, apakah menggunakan penomoran atau tidak
- Batas jumlah kata untuk abstrak dan kata kunci
- Format tabel dan gambar, termasuk apakah harus disisipkan di teks atau dikirim terpisah
- Gaya penulisan judul, termasuk kapitalisasi
- Ketentuan halaman sampul dan identitas penulis
Skripsi atau Tesis yang Diubah Jadi Artikel Jurnal Sering Membawa Format Lama yang Tidak Sesuai
Banyak mahasiswa tingkat akhir dan periset pemula memulai perjalanan publikasi mereka dari naskah skripsi atau tesis yang sudah selesai. Niatnya baik, memanfaatkan riset yang sudah ada agar tidak terbuang percuma. Tapi proses konversi ini sering dilakukan terlalu terburu-buru, sehingga format lama yang menempel dari skripsi ikut terbawa tanpa disadari.
Struktur Bab yang Terbiasa Dipakai di Skripsi Perlu Disusun Ulang Total
Skripsi biasanya disusun dalam lima bab panjang, lengkap dengan latar belakang yang mendetail dan tinjauan pustaka yang luas. Artikel jurnal punya kebutuhan yang jauh berbeda. Struktur artikel jurnal umumnya jauh lebih ringkas, dengan pendahuluan yang langsung mengarah ke masalah penelitian tanpa perlu menjelaskan latar belakang institusi atau sejarah program studi.
Penulis yang memindahkan isi bab satu skripsi apa adanya ke bagian pendahuluan jurnal sering kali menghasilkan naskah yang terlalu panjang di bagian awal, padahal reviewer justru ingin cepat sampai ke bagian metode dan hasil. Ini bukan sekadar soal memangkas kata, tapi soal mengubah cara berpikir dari menulis skripsi ke menulis artikel ilmiah yang padat.
Bagian yang Biasanya Terlewat Saat Memangkas Naskah Panjang Jadi Artikel Ringkas
Saat memangkas skripsi menjadi artikel jurnal, ada beberapa bagian yang sering terlewat justru karena penulis terlalu fokus pada pemangkasan jumlah kata.
- Abstrak baru yang benar-benar merangkum temuan, bukan sekadar potongan dari abstrak skripsi
- Kata kunci yang disesuaikan dengan istilah yang dicari pembaca jurnal, bukan istilah administratif kampus
- Daftar pustaka yang disaring ulang karena tidak semua referensi skripsi relevan untuk artikel yang lebih spesifik
- Bagian pembahasan yang dipertajam agar fokus pada satu temuan utama, bukan menjelaskan semua temuan skripsi sekaligus
Menghapus Identitas Penulis untuk Double Blind Review Sering Terlewat
Sebagian besar jurnal ilmiah bereputasi menerapkan sistem double blind review, di mana identitas penulis dan reviewer sama-sama dirahasiakan selama proses penilaian berlangsung. Tujuannya menjaga objektivitas, supaya penilaian murni didasarkan pada kualitas naskah, bukan pada nama besar penulis atau afiliasi institusinya.
Detail Kecil Ini Bisa Membuat Naskah Dikembalikan Tanpa Sempat Direview
Masalahnya, banyak penulis lupa bahwa identitas mereka bisa muncul di tempat yang tidak terduga. Nama penulis mungkin sudah dihapus dari halaman judul, tapi masih tertinggal di metadata dokumen Word, di header atau footer, atau bahkan di dalam ucapan terima kasih yang menyebut nama pembimbing dan institusi asal secara eksplisit. Beberapa sistem submission bahkan bisa mendeteksi nama penulis dari properti file yang tersimpan otomatis saat dokumen dibuat.
Editor yang menemukan identitas penulis tetap ada padahal jurnal mensyaratkan anonimitas biasanya akan mengembalikan naskah untuk diperbaiki, dan ini memperpanjang waktu proses submission tanpa alasan yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal. Memeriksa properti dokumen dan menghapus jejak identitas sebelum mengunggah file adalah langkah kecil yang sering diabaikan padahal dampaknya cukup besar terhadap kelancaran proses review.
Memformat Sendiri atau Menggunakan Jasa Format Jurnal, Ini yang Perlu Dipertimbangkan
Setelah memahami betapa detailnya persyaratan format yang harus dipenuhi, pertanyaan berikutnya yang wajar muncul adalah apakah semua ini sebaiknya dikerjakan sendiri atau diserahkan kepada pihak lain yang lebih berpengalaman menangani format jurnal.
Waktu yang Dibutuhkan untuk Menyesuaikan Format Manual Sering Diremehkan
Menyesuaikan satu naskah dengan template jurnal tertentu bukan pekerjaan lima menit, terutama kalau penulis belum pernah melakukannya sebelumnya. Proses ini melibatkan pengecekan berulang antara panduan penulis dan naskah, penyesuaian gaya sitasi di seluruh daftar pustaka, pengaturan ulang tabel dan gambar, sampai verifikasi bahwa tidak ada identitas penulis yang tertinggal.
Bagi penulis yang mengejar deadline submission tertentu, misalnya karena terikat syarat kelulusan atau jadwal edisi jurnal, waktu yang terpakai untuk urusan teknis ini bisa mengurangi waktu yang seharusnya dipakai untuk memperkuat isi naskah. Di sinilah banyak penulis akhirnya mempertimbangkan bantuan profesional, bukan karena tidak mampu, tapi karena keterbatasan waktu.
Kapan Jasa Format Jurnal Lebih Masuk Akal Dibanding Mengerjakan Sendiri
Ada beberapa situasi yang membuat penggunaan jasa format jurnal menjadi pilihan yang lebih rasional dibanding mengerjakan semuanya sendiri.
| Situasi | Kenapa Jasa Format Jurnal Membantu |
|---|---|
| Menyasar jurnal internasional dengan template rumit | Kesalahan kecil pada format asing lebih sulit dikenali sendiri, terutama jika belum terbiasa dengan istilah teknis penerbit |
| Deadline submission sudah sangat dekat | Proses penyesuaian format bisa memakan waktu berhari-hari kalau dikerjakan sambil belajar dari nol |
| Sudah pernah ditolak karena alasan format sebelumnya | Ada risiko kesalahan yang sama terulang jika tidak ada pihak lain yang memeriksa ulang secara menyeluruh |
| Mengonversi banyak naskah sekaligus, misalnya dari beberapa bab skripsi | Konsistensi format antar naskah lebih terjaga jika dikerjakan oleh satu pihak yang memahami keseluruhan template |
Sebaliknya, kalau naskah hanya menyasar satu jurnal dengan template yang relatif sederhana dan penulis punya cukup waktu untuk mempelajari panduan penulis secara teliti, mengerjakan format secara mandiri masih sangat mungkin dilakukan tanpa risiko besar.
Menyiapkan Naskah agar Siap Diterima Sejak Percobaan Submit Pertama
Format jurnal memang terlihat seperti urusan teknis yang membosankan dibanding proses riset itu sendiri, tapi dampaknya terhadap peluang diterima justru sangat nyata. Naskah yang sudah sesuai template sejak awal akan langsung masuk ke tahap peer review tanpa hambatan administratif yang sebenarnya bisa dihindari.
Langkah paling sederhana yang bisa dilakukan sebelum submit adalah membandingkan naskah secara langsung dengan template resmi dari jurnal tujuan, memeriksa gaya sitasi di seluruh daftar pustaka, dan memastikan tidak ada jejak identitas penulis yang tertinggal untuk jurnal yang menerapkan double blind review. Kalau waktu menjadi kendala utama atau jurnal yang dituju punya persyaratan format yang rumit, menggunakan jasa format jurnal bisa menjadi jalan keluar yang lebih efisien dibanding menghabiskan waktu mempelajari setiap detail teknis sendirian. Yang terpenting, naskah dengan riset yang kuat sebaiknya tidak berakhir ditolak hanya karena hal yang sebenarnya bisa diperbaiki sejak sebelum tombol submit ditekan.
Referensi
Editage Indonesia. Tips Format Jurnal Langsung dari Editor. https://www.editage.id/blog/tips-format-jurnal-langsung-dari-editor/
Biro Publikasi, Jurnal Ilmiah dan Informasi Digital UMA. Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari dalam Proses Submit Jurnal Ilmiah. https://bpjiid.uma.ac.id/2025/06/16/kesalahan-fatal-yang-harus-dihindari-dalam-proses-submit-jurnal-ilmiah/
Biro Publikasi, Jurnal Ilmiah dan Informasi Digital UMA. Kesalahan Umum Saat Menulis untuk Publikasi Jurnal Ilmiah dan Cara Menghindarinya. https://bpjiid.uma.ac.id/2025/06/12/kesalahan-umum-saat-menulis-untuk-publikasi-jurnal-ilmiah-dan-cara-menghindarinya/
Dunia Dosen. Tanda dan 9 Alasan Jurnal Ditolak Serta Solusinya. https://duniadosen.com/jurnal-ditolak/
Ruang Jurnal. Cara Submit Artikel ke Jurnal, Panduan Lengkap untuk Pemula. https://ruangjurnal.com/cara-submit-artikel-ke-jurnal-panduan-lengkap-untuk-pemula/










