Situasinya sering begini: kamu sudah selesai menulis artikel ilmiah, sudah googling nama jurnal yang kira-kira cocok, dan sekarang halaman website jurnal itu sedang terbuka di tab browser. Semua terlihat lumayan. Ada nama dewan editor, ada ISSN, ada klaim terindeks di database bereputasi. Tapi ada sesuatu yang terasa tidak pas, entah itu desainnya yang sedikit aneh, atau email undangan yang datang sebelum kamu sempat mencari jurnal ini sendiri.
Perasaan ragu itu wajar, dan sebenarnya itu pertanda bagus. Masalah terbesar dengan jurnal predator bukan karena orang tidak tahu istilahnya. Hampir semua mahasiswa dan peneliti pemula sekarang sudah pernah mendengar soal jurnal predator. Masalahnya adalah ketika kamu sudah ada di titik ini, sudah punya naskah, sudah ada calon jurnal, kamu tidak tahu persis harus memeriksa apa dan dari mana mulainya.
Artikel ini dibuat untuk menjawab pertanyaan yang lebih spesifik dari sekadar “apa itu jurnal predator.” Ini tentang bagaimana kamu, yang mungkin belum pernah submit ke jurnal sebelumnya, bisa memastikan sendiri apakah jurnal yang sedang kamu pertimbangkan aman atau tidak. Dan kalau ternyata sudah terlanjur, ada bagian khusus yang membahas itu juga.
Daftar Isi
ToggleKenapa Jurnal Predator Bisa Mengecoh Bahkan Orang yang Sudah Tahu Ciri-cirinya
Banyak artikel tentang jurnal predator ditulis seolah-olah masalahnya hanya soal kurang informasi. Padahal bukan itu inti masalahnya.
Bukan Soal Tidak Tahu, Tapi Soal Tidak Punya Pembanding
Kalau kamu baru pertama kali akan submit artikel ilmiah, kamu tidak punya gambaran seperti apa proses di jurnal yang sah itu rasanya. Kamu tidak tahu berapa lama normalnya menunggu keputusan review. Kamu tidak tahu seperti apa email penerimaan yang wajar. Kamu tidak tahu seberapa detail seharusnya informasi editorial yang ditampilkan di website jurnal.
Tanpa pembanding itu, hampir semua jurnal terasa sama. Website yang lumayan rapi, nama-nama editor yang terdengar akademik, pernyataan peer review yang tercantum, semuanya bisa terlihat cukup meyakinkan kalau kamu belum pernah melihat versi yang sungguhan.
Inilah kenapa orang yang sudah membaca artikel tentang ciri-ciri jurnal predator masih bisa terjebak. Mereka tahu daftarnya secara teoritis, tapi tidak bisa mengenali perbedaannya secara praktis karena tidak ada referensi pengalaman nyata untuk dibandingkan.
Model Bisnis di Balik Jurnal Predator yang Membuat Fenomena Ini Sulit Hilang
Jurnal predator beroperasi dengan memanfaatkan tekanan nyata yang dirasakan peneliti: tekanan untuk publish, tekanan untuk menambah kredit akademik, tekanan tenggat waktu yang datang dari kebutuhan kelulusan atau kenaikan jabatan. Tekanan itu riil, dan jurnal predator menargetkan celah itu dengan tepat.
Mereka menawarkan apa yang paling diinginkan peneliti dalam kondisi tertekan: cepat, pasti diterima, dan terdengar internasional. Biayanya, yang sering disebut sebagai Article Processing Charge atau APC, dikemas sebagai sesuatu yang normal karena memang banyak jurnal bereputasi pun memungut APC. Yang berbeda adalah apa yang kamu dapatkan sebagai imbalannya.
Di jurnal bereputasi, APC dibayarkan setelah proses peer review yang ketat, dan artikel yang diterima benar-benar telah dievaluasi oleh ahli di bidangnya. Di jurnal predator, “peer review” sering kali hanya formalitas di atas kertas, atau tidak ada sama sekali. Artikel apapun bisa diterima selama penulisnya mau membayar.
Selama ada tekanan akademik dan ada peneliti yang butuh publikasi cepat, jurnal predator akan terus ada. Memahami model bisnis ini penting karena menjelaskan kenapa mereka sangat baik dalam terlihat meyakinkan di permukaan.
Tanda yang Bisa Langsung Kamu Rasakan Tanpa Harus Cek Ke Mana-mana
Sebagian tanda jurnal predator bisa kamu kenali hanya dari membaca email atau membuka website jurnal, tanpa harus masuk ke database manapun. Ini tanda-tanda yang sering terasa “aneh” tapi sulit dijelaskan kenapa, sampai kamu tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Email Undangan yang Terasa Terlalu Antusias
Jurnal bereputasi tidak perlu mencari penulis. Mereka sudah memiliki antrean submission yang panjang karena nama mereka dikenal di komunitas ilmiah. Kalau sebuah jurnal menghubungimu lebih dulu lewat email yang memuji tulisanmu secara berlebihan, itu sudah jadi sinyal pertama yang perlu diwaspadai.
Email semacam ini biasanya punya beberapa pola yang mudah dikenali. Kalimat pembukanya sering berbunyi seperti “We came across your impressive work” atau versi Bahasa Indonesia yang setara, lalu diikuti ajakan untuk segera submit ke jurnal mereka yang disebut “prestigious” atau “highly reputable.” Yang menarik, mereka hampir tidak pernah menyebut judul spesifik tulisanmu, karena email itu dikirim massal ke ratusan atau ribuan alamat email sekaligus.
Kalau email seperti itu masuk ke kotak masukmu, kamu tidak perlu membalas atau mengklik linknya. Cukup abaikan, atau kalau ingin memastikan, lakukan pengecekan yang akan dibahas di bagian berikutnya.
Proses Review Selesai dalam Hitungan Hari
Peer review yang dilakukan dengan benar membutuhkan waktu. Minimal beberapa minggu, dan pada jurnal dengan standar tinggi bisa memakan waktu beberapa bulan. Prosesnya melibatkan pengiriman naskah ke reviewer yang relevan, menunggu mereka membaca dan mengevaluasi, lalu menunggu revisi dan putaran review berikutnya.
Kalau sebuah jurnal mengklaim bisa mereview dan menerima artikelmu dalam tiga sampai tujuh hari, artinya salah satu dari dua hal: review itu tidak dilakukan sama sekali, atau dilakukan sekadar formalitas tanpa evaluasi nyata. Keduanya adalah masalah serius.
Ini bukan soal jurnal yang efisien. Proses ilmiah memang butuh waktu karena harus teliti. Kecepatan yang tidak wajar hampir selalu berarti ada tahap penting yang dilewati.
Biaya yang Muncul Setelah Artikel Dinyatakan Diterima
Jurnal yang jujur mencantumkan informasi biaya publikasi secara terbuka sebelum kamu submit. Kamu bisa menemukannya di halaman “Author Guidelines” atau “Submission Information” sebelum mengirimkan apapun.
Jurnal predator sering membalik urutan ini. Mereka tidak menyebut biaya di awal, atau menyebutkan angka yang sangat kecil, lalu baru mengungkapkan jumlah yang sesungguhnya setelah artikelmu dinyatakan “diterima.” Di titik itu, sebagian orang merasa sudah terlanjur dan akhirnya membayar karena merasa tidak ada pilihan lain.
Kalau kamu tidak bisa menemukan informasi biaya yang jelas sebelum submit, itu sendiri sudah cukup alasan untuk ragu.
Tanda yang Baru Ketahuan Setelah Kamu Aktif Memeriksa
Tidak semua tanda jurnal predator terlihat dari luar. Beberapa baru ketahuan setelah kamu benar-benar masuk ke database dan melakukan pengecekan mandiri. Ini yang membedakan pembaca yang hanya “tahu” dari pembaca yang benar-benar bisa memproteksi diri sendiri.
Klaim Terindeks Scopus yang Tidak Bisa Diverifikasi Sendiri
Jurnal predator sangat sering mengklaim terindeks di Scopus atau Web of Science. Klaim ini efektif karena terdengar meyakinkan bagi siapa saja yang tidak tahu cara memverifikasinya sendiri.
Yang perlu kamu lakukan adalah tidak mempercayai klaim itu begitu saja. Scopus menyediakan halaman resmi di scopus.com/sources dan scimagojr.com tempat kamu bisa mencari nama jurnal secara langsung. Kalau nama jurnal itu tidak muncul di sana, klaim terindeks yang tercantum di websitenya tidak punya dasar apapun.
Hal serupa berlaku untuk jurnal nasional. Jika sebuah jurnal mengklaim terindeks SINTA, kamu bisa memeriksanya langsung di sinta.kemdikbud.go.id. Prosesnya hanya butuh beberapa menit dan hasilnya langsung bisa dilihat.
Dewan Editor yang Namanya Tidak Ditemukan di Mana-mana
Dewan editorial adalah salah satu cara paling efektif untuk menilai kredibilitas sebuah jurnal. Jurnal yang serius memiliki editor dari institusi yang diakui, dengan profil akademik yang bisa ditemukan di Google Scholar, ResearchGate, atau situs institusi tempat mereka bekerja.
Jurnal predator sering menggunakan dua strategi yang berlawanan. Pertama, mencantumkan nama akademisi ternama tanpa izin mereka. Ini berarti orang-orang itu tidak benar-benar terlibat dalam proses editorial, dan beberapa di antaranya bahkan tidak tahu nama mereka dicantumkan. Kedua, menggunakan nama-nama yang terdengar akademik tapi tidak bisa ditemukan keberadaannya secara online sama sekali.
Cara mudah untuk mengeceknya: ambil dua atau tiga nama editor dari daftar yang tercantum, lalu cari di Google Scholar. Kalau tidak ada profil yang muncul, atau profilnya terlihat sangat minim dan tidak konsisten dengan bidang jurnal tersebut, itu patut dicurigai.
Ada Jurnal dengan Nama Hampir Identik yang Jauh Lebih Tua
Ada fenomena yang disebut “journal hijacking” yang jarang dibahas dalam artikel untuk pemula, padahal sangat berbahaya justru karena tidak langsung terlihat. Jurnal predator kadang sengaja membuat website baru dengan nama, ISSN, dan tampilan yang menyerupai jurnal bereputasi yang sudah ada. Tujuannya supaya penulis yang tidak teliti mengira mereka sedang submit ke jurnal yang asli.
Cara mendeteksinya adalah dengan mencari nama jurnal di mesin pencari dan membandingkan hasilnya. Kalau muncul dua website berbeda dengan nama yang hampir sama atau identik, perhatikan mana yang lebih tua, mana yang terindeks di database resmi, dan apakah keduanya menggunakan nomor ISSN yang sama. Jika ya, salah satunya palsu.
Ini bukan kasus yang sangat umum, tapi cukup sering terjadi untuk menjadi pertimbangan, terutama kalau kamu menemukan jurnal lewat iklan atau tautan yang tidak jelas asalnya.
Empat Langkah Verifikasi yang Bisa Dilakukan dalam Sepuluh Menit
Setelah mengetahui tanda-tandanya, langkah berikutnya adalah tindakan nyata. Empat langkah ini dirancang untuk dilakukan secara berurutan, dimulai dari yang paling cepat. Kamu bisa berhenti di langkah mana pun kalau sudah mendapat jawaban yang jelas.
Langkah Pertama: Cek Nama Jurnal di Database Resmi Scopus atau SINTA
Ini langkah yang paling langsung memberikan jawaban. Buka scopus.com/sources atau scimagojr.com, lalu ketik nama jurnal di kolom pencarian. Kalau jurnal itu memang terindeks Scopus, namanya akan muncul lengkap dengan informasi penerbit, quartile, dan rentang tahun pengindeksannya.
Untuk jurnal nasional, buka sinta.kemdikbud.go.id dan cari nama jurnal di sana. SINTA membagi jurnal dalam peringkat S1 sampai S6. Jurnal yang tidak terdaftar di SINTA tidak bisa digunakan untuk keperluan akademik resmi di Indonesia, termasuk untuk syarat kelulusan di banyak perguruan tinggi.
Kalau jurnal mengklaim terindeks di salah satu database ini tapi tidak muncul saat kamu cari, itu jawaban yang sudah cukup jelas.
Langkah Kedua: Verifikasi Nomor ISSN di issn.org
ISSN atau International Standard Serial Number adalah nomor identifikasi unik yang diberikan kepada publikasi berkala seperti jurnal. Setiap jurnal yang terdaftar resmi punya ISSN yang bisa diverifikasi di portal internasional issn.org.
Caranya mudah: temukan nomor ISSN yang tercantum di website jurnal (biasanya ada di footer atau halaman “About”), lalu masukkan nomor itu di portal issn.org. Sistem akan menampilkan informasi tentang publikasi yang terdaftar dengan nomor tersebut, termasuk nama resminya dan penerbitnya.
Kalau nomor ISSN tidak bisa ditemukan di issn.org, atau nama yang muncul berbeda dengan nama jurnal yang kamu cek, ada sesuatu yang tidak beres.
Langkah Ketiga: Gunakan Think Check Submit Sebagai Checklist Cepat
Think Check Submit (thinkchecksubmit.org) adalah platform independen yang dikembangkan oleh komunitas akademik global untuk membantu peneliti mengevaluasi jurnal sebelum submit. Platform ini menyediakan checklist interaktif dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membantumu menilai apakah sebuah jurnal layak atau tidak.
Ini salah satu tools yang jarang disebutkan dalam artikel tentang jurnal predator berbahasa Indonesia, padahal sangat berguna untuk pemula karena pertanyaannya sistematis dan mudah diikuti tanpa perlu pengetahuan teknis yang mendalam.
Langkah Keempat: Cari Nama Jurnal di Beall’s List Versi Komunitas
Jeffrey Beall, pustakawan dari University of Colorado Denver, pertama kali menyusun daftar jurnal dan penerbit predator sekitar tahun 2010. Daftar ini dikenal sebagai Beall’s List. Meski Beall menghentikan pembaruan resminya, komunitas akademik telah melanjutkan pemeliharaan versi yang diperbarui dan masih bisa diakses secara online.
Penting untuk dipahami bahwa Beall’s List tidak bersifat mutlak. Tidak ada di daftar itu tidak otomatis berarti jurnal tersebut aman, dan ada di daftarnya tidak selalu berarti sudah pasti predator tanpa pertimbangan lain. Gunakan sebagai satu dari beberapa referensi, bukan sebagai satu-satunya penentu.
Selain Beall’s List, DOAJ atau Directory of Open Access Journals (doaj.org) bisa digunakan sebagai referensi positif. Jurnal yang terdaftar di DOAJ telah melewati proses evaluasi dan dianggap memenuhi standar keterbukaan dan integritas editorial.
Tiga Miskonsepsi yang Bikin Orang Masih Terjebak Walau Sudah Baca Banyak Artikel
Ini bagian yang sering dilewati kompetitor tapi justru sangat penting. Ada pemahaman yang beredar luas tentang jurnal predator yang tidak sepenuhnya akurat, dan miskonsepsi itu bisa membuat orang mengambil keputusan yang salah dalam dua arah: terlalu mudah curiga pada jurnal yang sebenarnya sah, atau terlalu mudah percaya pada jurnal yang sebenarnya bermasalah.
Jurnal yang Minta APC Tidak Otomatis Predator
Banyak yang mengira bahwa jurnal yang memungut biaya publikasi pasti jurnal predator. Ini tidak benar. Banyak jurnal bereputasi tinggi, termasuk yang terindeks Scopus, juga memungut APC. Alasannya adalah model Open Access, di mana artikel dapat diakses gratis oleh siapa saja, membutuhkan biaya operasional yang ditutup lewat kontribusi penulis.
Yang membedakan bukan ada atau tidaknya APC, tapi transparansi dan apa yang kamu dapatkan sebagai imbalannya. Jurnal bereputasi mencantumkan informasi biaya secara jelas sebelum submission, dan biaya itu mengkover proses editorial yang nyata. Jurnal predator menyembunyikan biaya, atau memunculkannya setelah artikel “diterima,” dan tidak memberikan proses editorial yang sesungguhnya.
Muncul di Google Scholar Bukan Jaminan Keamanan
Google Scholar mengindeks konten secara otomatis dari berbagai sumber, termasuk jurnal yang tidak melewati evaluasi kualitas apapun. Kemunculan sebuah artikel di Google Scholar hanya berarti Google bisa menemukannya di web, tidak lebih dari itu.
Ini berbeda dengan Scopus atau Web of Science yang memiliki proses seleksi editorial sebelum jurnal bisa masuk ke dalam indeksnya. Kalau kamu menemukan jurnal atau artikel di Google Scholar, itu bukan verifikasi tentang kualitas atau kredibilitasnya. Kamu tetap perlu melakukan pengecekan ke database yang memang memiliki standar kurasi.
Jurnal Baru Tidak Selalu Mencurigakan
Ada kecenderungan untuk otomatis mencurigai jurnal yang baru berdiri karena belum terindeks di database bereputasi. Ini pemahaman yang perlu sedikit diluruskan. Jurnal baru yang dikelola dengan serius, memiliki proses peer review yang transparan, editor yang bisa diverifikasi, dan kebijakan publikasi yang jelas tetap bisa menjadi tempat yang valid untuk submit, tergantung tujuanmu.
Yang perlu dicurigai bukan usia jurnal, tapi ketidakjelasan prosesnya. Jurnal yang baru berdiri tapi jujur tentang statusnya, terbuka soal proses review, dan tidak membuat klaim palsu tentang indeksasi adalah hal yang berbeda dari jurnal yang sudah lama tapi beroperasi secara tidak etis.
Yang Perlu Kamu Lakukan Kalau Sudah Terlanjur Submit
Ini pertanyaan yang hampir tidak pernah dijawab dalam artikel tentang jurnal predator, padahal kemungkinan besar ini yang pertama kamu pikirkan kalau setelah membaca ini kamu menyadari artikel kamu mungkin sudah masuk ke tempat yang salah.
Kalau kamu baru submit dan belum membayar apapun, langkah terbaiknya adalah menarik artikel (withdrawal) sebelum ada proses lebih lanjut. Hubungi editor jurnal lewat email, nyatakan bahwa kamu ingin menarik submission, dan tidak perlu memberikan penjelasan panjang. Sebagian jurnal predator akan mencoba membujuk kamu untuk tetap melanjutkan, tapi kamu tidak memiliki kewajiban apapun selama belum ada perjanjian tertulis yang kamu tanda tangani.
Kalau kamu sudah membayar dan artikel sudah terbit, situasinya lebih rumit. Artikel yang terbit di jurnal predator umumnya tidak diakui oleh PAK Dikti, tidak bisa digunakan untuk keperluan akademik resmi, dan dalam beberapa kasus bisa menimbulkan pertanyaan tentang integritas akademikmu di kemudian hari. Langkah yang bisa dilakukan adalah berkonsultasi dengan pembimbing atau pihak akademik di institusimu untuk menilai dampaknya dan mencari jalan keluarnya, misalnya dengan mempublikasikan ulang artikel yang sama (dengan catatan bahwa copyright tidak sudah dialihkan) ke jurnal yang lebih kredibel.
Yang paling penting: jangan panik dan jangan biarkan situasi ini tidak ditangani. Semakin cepat kamu tahu dan bertindak, semakin banyak pilihan yang masih tersedia.
Sebelum Menekan Tombol Submit, Ini yang Perlu Kamu Pegang
Mengenali jurnal predator bukan soal hafal daftar ciri atau tahu nama-nama tools yang bisa digunakan. Ini soal membangun kebiasaan verifikasi sebelum setiap keputusan besar dalam perjalanan publikasimu.
Tanda yang langsung terasa, seperti email undangan yang terlalu antusias, proses review yang terlalu cepat, dan biaya yang muncul tiba-tiba setelah penerimaan, adalah alarm awal yang tidak perlu dianalisis terlalu dalam. Kalau ada yang terasa aneh, percaya intuisi itu dan lakukan pengecekan.
Untuk verifikasi yang lebih konkret, urutan yang paling efisien adalah: cek indeksasi di Scopus atau SINTA terlebih dahulu karena hasilnya paling definitif, lalu verifikasi ISSN di issn.org, gunakan checklist Think Check Submit untuk penilaian menyeluruh, dan jadikan Beall’s List sebagai referensi tambahan bukan penentu tunggal.
Satu hal yang sering membuat orang menyerah di tengah jalan adalah merasa prosesnya terlalu rumit atau memakan waktu. Kenyataannya, keempat langkah di atas bisa diselesaikan dalam sepuluh menit, jauh lebih singkat dibandingkan waktu yang kamu habiskan untuk menulis artikelnya. Mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan, baik reputasi akademik maupun uang yang tidak sedikit, sepuluh menit itu adalah investasi yang sangat wajar.
REFERENSI
- Beall, J. (2012). Criteria for Determining Predatory Open-Access Publishers. Scholarly Open Access. Tersedia di: https://beallslist.net
- Directory of Open Access Journals (DOAJ). Verifikasi jurnal Open Access. https://doaj.org
- ISSN International Centre. Portal verifikasi nomor ISSN resmi. https://www.issn.org
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. SINTA (Science and Technology Index). https://sinta.kemdikbud.go.id
- Scopus. Daftar sumber terindeks Scopus. https://www.scopus.com/sources
- SCImago Journal & Country Rank. Referensi indeksasi jurnal internasional. https://www.scimagojr.com
- Think Check Submit. Checklist evaluasi jurnal bagi peneliti. https://thinkchecksubmit.org










