Banyak mahasiswa mulai menulis bagian tinjauan pustaka dengan cara yang sama sejak semester awal kuliah. Baca beberapa jurnal, catat poin pentingnya, lalu rangkum jadi beberapa paragraf. Cara ini sering dianggap cukup, sampai suatu hari dosen penguji bertanya, “metodenya apa, protokolnya bagaimana, kriteria pemilihan artikelnya seperti apa.” Pertanyaan itu baru muncul kalau tugas yang sedang dikerjakan sebenarnya menuntut systematic literature review, bukan sekadar rangkuman bacaan.
Masalahnya, istilah systematic literature review sering dipakai longgar. Ada yang menyebut tinjauan pustaka biasa sebagai SLR hanya karena membaca banyak jurnal, padahal yang membedakan keduanya bukan jumlah bacaan, melainkan cara kerja di baliknya. Kalau kamu sedang bingung menentukan mana yang sebenarnya dibutuhkan untuk skripsi, tesis, atau naskah jurnalmu, penjelasan berikut akan membantumu memutuskan dengan lebih percaya diri, lengkap dengan contoh nyata dan kesalahan yang paling sering membuat metodologi ini dipertanyakan.
Daftar Isi
ToggleBanyak Mahasiswa Menyebut Tinjauan Pustaka Mereka SLR Padahal Bukan
Kesalahan yang paling umum terjadi bukan karena mahasiswa malas, tapi karena batas antara tinjauan pustaka biasa dan systematic literature review memang tidak selalu terlihat jelas dari luar. Keduanya sama sama membaca literatur, sama sama merangkum temuan, dan sama sama berujung pada bab dua skripsi. Yang membedakan ada di proses yang tidak selalu terlihat di hasil akhir.
Ciri yang Membedakan Systematic Literature Review dari Rangkuman Jurnal Biasa
Tinjauan pustaka biasa umumnya disusun secara bebas. Peneliti memilih artikel yang menurutnya relevan, membacanya, lalu menuliskan rangkuman sesuai alur yang ia anggap logis. Tidak ada aturan baku tentang berapa banyak artikel yang harus dibaca atau kriteria apa yang menentukan artikel itu layak dimasukkan.
Systematic literature review bekerja dengan logika berbeda. Sebelum satu artikel pun dibaca, peneliti sudah harus menentukan:
- pertanyaan penelitian yang spesifik dan bisa dijawab lewat literatur
- kriteria inklusi dan eksklusi yang jelas, misalnya rentang tahun terbit, jenis publikasi, atau bahasa artikel
- strategi pencarian dengan kata kunci yang sudah dirancang di database tertentu seperti Scopus, Web of Science, atau Google Scholar
- cara menilai kualitas tiap studi yang berhasil ditemukan
Karena prosesnya ditentukan lebih dulu, hasil systematic literature review idealnya bisa direplikasi oleh peneliti lain yang mengikuti langkah yang sama. Tinjauan pustaka biasa tidak punya jaminan itu, karena sangat bergantung pada penilaian subjektif penulisnya.
Kenapa Dosen Penguji Sering Mempertanyakan Metodologi di Bagian Ini
Pertanyaan dosen soal metodologi biasanya muncul karena ada ketidaksesuaian antara label yang dipakai mahasiswa dengan proses yang benar benar dijalankan. Kalau bab metodologi menulis “penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review,” tapi tidak ada penjelasan kriteria inklusi eksklusi atau strategi pencarian yang jelas, penguji akan menganggap itu klaim yang tidak didukung bukti.
Situasi ini sebenarnya bisa dihindari sejak awal. Kalau proses yang dijalankan memang lebih dekat ke tinjauan pustaka biasa, tidak masalah menyebutnya begitu. Justru menyebut sesuatu sebagai SLR tanpa protokol yang jelas berisiko lebih besar dibanding jujur menyebutnya sebagai kajian literatur naratif.
Systematic Literature Review Sebenarnya Dirancang untuk Menjawab Masalah Apa
Systematic literature review lahir dari kebutuhan yang spesifik, yaitu ketika jumlah penelitian pada satu topik sudah terlalu banyak untuk dibaca satu per satu secara acak, sementara peneliti butuh gambaran yang komprehensif dan bisa dipertanggungjawabkan tentang apa yang sudah diketahui dan apa yang belum. Ini berbeda dari tujuan tinjauan pustaka biasa yang lebih fokus membangun latar belakang teori untuk penelitian yang akan dilakukan.
Rumusan Masalah yang Terlalu Luas Biasanya Jadi Titik Gagal Pertama
Banyak mahasiswa mulai proses SLR dengan pertanyaan penelitian yang masih terlalu umum, misalnya “bagaimana pengaruh teknologi terhadap pendidikan.” Pertanyaan seluas ini akan menghasilkan ribuan artikel yang relevan secara longgar, tapi hampir mustahil disaring dengan kriteria yang konsisten.
Rumusan yang lebih tajam biasanya menyebut variabel spesifik, populasi tertentu, dan konteks yang jelas, misalnya “bagaimana pengaruh pembelajaran berbasis proyek terhadap kreativitas siswa sekolah menengah dalam lima tahun terakhir.” Semakin spesifik rumusan masalahnya, semakin mudah menentukan kata kunci pencarian dan kriteria seleksi artikel di langkah berikutnya. Kerangka PICO atau PICOS (Population, Intervention, Comparison, Outcome, dan kadang Study design) sering dipakai untuk memaksa rumusan masalah menjadi lebih terukur sejak awal.
Kapan Systematic Literature Review Benar Benar Diperlukan
Tidak semua tugas akhir membutuhkan systematic literature review penuh. Kebutuhan ini sangat bergantung pada level akademik, tujuan penelitian, dan seberapa besar tuntutan reviewer atau dosen terhadap ketelitian metodologis.
| Level Akademik | Kebutuhan Umum | Pendekatan yang Biasanya Cukup |
|---|---|---|
| Skripsi S1 | Membangun latar belakang teori dan konteks penelitian | Tinjauan pustaka naratif yang terstruktur, kecuali dosen pembimbing secara eksplisit meminta SLR |
| Tesis S2 atau riset lanjutan | Menunjukkan penguasaan literatur secara mendalam dan menemukan celah penelitian | Systematic literature review dengan protokol yang didokumentasikan, meski bisa disederhanakan dibanding standar jurnal internasional |
| Naskah untuk jurnal bereputasi | Menyajikan bukti yang bisa direplikasi dan dipercaya sebagai kontribusi ilmiah mandiri | Systematic literature review penuh mengikuti PRISMA, dengan pelaporan transparan di setiap tahap |
Skripsi S1 Belum Tentu Perlu Seketat Ini
Untuk skripsi S1, tujuan utama tinjauan pustaka biasanya membangun argumen kenapa penelitian itu penting dan relevan, bukan menghasilkan bukti sistematis yang bisa dipublikasikan sebagai artikel mandiri. Kalau dosen pembimbing tidak secara spesifik meminta pendekatan SLR, memaksakan protokol PRISMA lengkap justru bisa memperlambat proses tanpa menambah nilai akademik yang sepadan dengan usahanya. Yang lebih penting untuk level ini adalah tinjauan pustaka yang tersusun rapi, relevan, dan menunjukkan pemahaman yang jelas terhadap topik.
Tesis, Riset Lanjutan, dan Naskah Jurnal Biasanya yang Paling Membutuhkan Protokol Ketat
Semakin tinggi level akademik, semakin besar tuntutan untuk menunjukkan bahwa kesimpulan yang diambil benar benar berdasarkan penelusuran literatur yang menyeluruh, bukan sekadar artikel yang kebetulan mudah ditemukan. Pada level tesis, riset pascasarjana, atau naskah yang ditujukan untuk jurnal bereputasi, systematic literature review sering menjadi pilihan yang tepat karena hasilnya dianggap sebagai kontribusi ilmiah tersendiri, bukan hanya pelengkap bab dua.
Rapid Review dan Umbrella Review Kadang Jadi Pilihan yang Lebih Masuk Akal
Ada situasi ketika systematic literature review penuh justru terlalu berat untuk kebutuhan yang ada. Rapid review menggunakan proses yang mirip SLR, tapi dipersingkat di beberapa tahap, misalnya jumlah database yang dicari lebih sedikit atau penilaian kualitas studi dilakukan lebih cepat. Pendekatan ini cocok ketika kebutuhannya adalah mendapatkan gambaran cepat untuk pengambilan keputusan, bukan kontribusi ilmiah jangka panjang.
Umbrella review punya fungsi yang berbeda lagi. Alih alih meninjau artikel penelitian primer, umbrella review meninjau kumpulan systematic review yang sudah ada tentang topik terkait, lalu membandingkan temuannya. Pendekatan ini biasanya dipakai ketika sudah ada banyak systematic review pada satu bidang dan yang dibutuhkan adalah gambaran tingkat tinggi, bukan meninjau ulang dari nol.
Tahapan yang Sering Dilewati Padahal Menentukan Validitas Hasil
Sebagian besar panduan menjelaskan tahapan SLR secara berurutan, mulai dari pencarian literatur sampai sintesis. Yang jarang ditekankan adalah dua tahap yang justru paling menentukan kualitas hasil akhir, dan keduanya sering dikerjakan belakangan padahal seharusnya diselesaikan lebih dulu.
Menentukan Kriteria Inklusi dan Eksklusi Sebelum Mulai Mencari, Bukan Sesudah
Kesalahan yang cukup umum terjadi ketika peneliti mulai mencari dan membaca artikel dulu, baru menentukan kriteria mana yang akan dipakai untuk menyaring. Urutan ini keliru karena kriteria yang ditentukan belakangan cenderung disesuaikan dengan artikel yang kebetulan sudah dibaca, bukan berdasarkan pertimbangan objektif.
Kriteria inklusi dan eksklusi idealnya ditetapkan sebelum pencarian dimulai. Contohnya, menetapkan bahwa hanya artikel berbahasa Inggris atau Indonesia yang terbit dalam sepuluh tahun terakhir dan berupa artikel jurnal, bukan prosiding, yang akan dimasukkan. Dengan kriteria yang sudah jelas sejak awal, proses penyaringan menjadi lebih objektif dan bisa dijelaskan dengan gamblang kalau ditanya dosen atau reviewer.
PRISMA Bukan Sekadar Diagram Pelengkap Laporan
PRISMA, singkatan dari Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses, sering diperlakukan sebagai formalitas yang harus ditempel di laporan supaya terlihat sistematis. Padahal fungsi utamanya adalah transparansi. Flow diagram PRISMA menunjukkan berapa artikel yang teridentifikasi di awal pencarian, berapa yang dihapus karena duplikasi, berapa yang tersisa setelah screening judul dan abstrak, sampai berapa yang benar benar masuk dalam analisis akhir.
Diagram ini membantu pembaca menilai sendiri seberapa ketat proses penyaringan yang dilakukan. Kalau dari seribu artikel yang teridentifikasi hanya lima yang tersisa untuk dianalisis, pembaca berhak tahu alasan penyaringan seketat itu, bukan hanya menerima angka akhirnya begitu saja.
Kesalahan Kecil yang Membuat Systematic Literature Review Ditolak Reviewer
Dua kesalahan berikut jarang dibahas secara eksplisit, padahal keduanya yang paling sering membuat naskah SLR dikembalikan editor jurnal atau dipertanyakan penguji.
Jumlah Artikel yang Terlalu Sedikit atau Tidak Relevan dengan Rumusan Masalah
Tidak ada angka pasti soal berapa artikel yang “cukup” untuk sebuah SLR, karena itu sangat tergantung topik dan seberapa banyak penelitian yang sudah ada. Namun kalau hasil akhir hanya menyisakan tiga atau empat artikel dari rumusan masalah yang cukup luas, reviewer biasanya akan mempertanyakan apakah strategi pencarian sudah cukup komprehensif. Sebaliknya, kalau rumusan masalah sangat spesifik dan memang hanya ada segelintir studi relevan di dunia, jumlah kecil itu wajar asalkan dijelaskan alasannya.
Sintesis yang Berhenti di Rangkuman, Bukan Analisis Tematik
Ini kesalahan yang paling sering luput dari perhatian. Banyak naskah SLR menuliskan temuan tiap artikel satu per satu secara berurutan, seolah membuat daftar rangkuman panjang. Padahal inti dari sintesis adalah mengelompokkan temuan berdasarkan tema atau pola yang muncul di beberapa studi sekaligus, lalu menjelaskan apa arti pola itu untuk pertanyaan penelitian yang diajukan.
Perbedaannya sederhana. Rangkuman menjawab “apa yang dikatakan tiap artikel.” Sintesis menjawab “apa yang bisa disimpulkan kalau semua artikel ini dibaca bersama sama.” Reviewer jurnal biasanya langsung terlihat kalau bagian hasil hanya berisi rangkuman tanpa sintesis yang sebenarnya.
Contoh Menyusun Systematic Literature Review dari Pertanyaan Sampai Sintesis
Supaya lebih konkret, berikut gambaran singkat bagaimana proses ini berjalan pada satu topik sederhana.
- Rumusan masalah ditentukan lebih dulu. Misalnya, “bagaimana pengaruh gamifikasi terhadap motivasi belajar matematika siswa sekolah dasar dalam sepuluh tahun terakhir.” Rumusan ini sudah menyebut intervensi (gamifikasi), outcome (motivasi belajar), populasi (siswa sekolah dasar), dan rentang waktu.
- Kriteria inklusi dan eksklusi ditetapkan sebelum pencarian dimulai. Contohnya, hanya artikel jurnal berbahasa Inggris atau Indonesia yang terbit antara 2015 sampai 2025, dan mengecualikan tesis atau skripsi yang tidak melalui peer review.
- Pencarian dilakukan di database seperti Google Scholar atau Scopus menggunakan kombinasi kata kunci, misalnya “gamification” AND “mathematics motivation” AND “elementary school.”
- Hasil pencarian awal disaring bertahap, mulai dari penghapusan duplikasi, screening judul dan abstrak, sampai pembacaan teks lengkap untuk artikel yang lolos tahap sebelumnya.
- Artikel yang tersisa dianalisis dan dikelompokkan berdasarkan tema, misalnya kelompok studi yang menemukan peningkatan motivasi jangka pendek, kelompok yang menyoroti efek jangka panjang, dan kelompok yang justru menemukan hasil beragam tergantung desain gamifikasinya.
- Sintesis akhir menjelaskan pola dari pengelompokan tadi, misalnya bahwa mayoritas studi sepakat gamifikasi meningkatkan motivasi jangka pendek, tapi bukti untuk efek jangka panjang masih terbatas dan menjadi celah penelitian yang bisa diangkat lebih lanjut.
Contoh ini menunjukkan bahwa setiap tahap saling terhubung. Rumusan masalah yang jelas di awal memudahkan penentuan kata kunci, kata kunci yang tepat memudahkan penyaringan, dan penyaringan yang konsisten memudahkan sintesis di akhir.
Alat Bantu yang Membuat Proses Ini Tidak Perlu Dikerjakan Manual Semua
Beberapa tools bisa meringankan proses yang secara manual cukup melelahkan, terutama untuk mengelola puluhan sampai ratusan artikel sekaligus.
| Tools | Fungsi Utama dalam Proses SLR |
|---|---|
| Mendeley atau Zotero | Mengelola referensi, menghapus duplikasi otomatis, dan memformat sitasi sesuai gaya penulisan yang dibutuhkan |
| Publish or Perish | Membantu pencarian awal dan menghitung metrik sitasi dari database seperti Google Scholar |
| VOSviewer | Membuat visualisasi peta bibliometrik untuk melihat hubungan antar topik, penulis, atau kata kunci dari kumpulan artikel yang sudah dikumpulkan |
| Rayyan atau Covidence | Membantu proses screening judul dan abstrak secara kolaboratif, terutama kalau SLR dikerjakan lebih dari satu peneliti |
Tools ini tidak menggantikan proses berpikir kritis yang jadi inti dari SLR. Fungsinya lebih ke mempercepat bagian administratif seperti manajemen referensi dan visualisasi data, supaya waktu dan energi bisa lebih banyak dialokasikan untuk membaca dan menganalisis isi artikel.
Menentukan Skala Systematic Literature Review yang Sesuai dengan Kebutuhanmu
Pertanyaan yang paling penting sebelum mulai bukan “bagaimana cara membuat SLR yang benar,” tapi “apakah tugas ini memang membutuhkan SLR dalam artian yang sesungguhnya.” Kalau kamu sedang mengerjakan skripsi S1 dan dosen pembimbing tidak secara eksplisit meminta pendekatan sistematis, tinjauan pustaka yang tersusun rapi dan relevan biasanya sudah cukup memenuhi kebutuhan akademik di level itu.
Kalau kamu sedang menyusun tesis, riset lanjutan, atau naskah untuk jurnal bereputasi, systematic literature review dengan protokol yang jelas akan jauh lebih membantu, baik untuk memperkuat kredibilitas metodologis maupun untuk menemukan celah penelitian yang benar benar orisinal. Yang paling penting, apa pun pendekatan yang dipilih, kejujuran dalam menyebut metode yang benar benar dijalankan akan selalu lebih aman dibanding label yang terdengar meyakinkan tapi tidak didukung proses yang sesuai.
Referensi
Moher, D., Liberati, A., Tetzlaff, J., & Altman, D. G. (2009). Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses: The PRISMA Statement.
Page, M. J., et al. (2021). The PRISMA 2020 Statement: An Updated Guideline for Reporting Systematic Reviews.
Calderon, J. F., & Ruiz, A. (2015). Systematic Literature Review sebagai Metode Identifikasi, Evaluasi, dan Interpretasi Penelitian.
PRISMA Statement. https://www.prisma-statement.org/prisma-2020-flow-diagram
Equator Network. PRISMA Reporting Guidelines. https://www.equator-network.org/reporting-guidelines/prisma/










