Banyak mahasiswa baru sadar ada masalah setelah draf review mereka dikembalikan dosen pembimbing dengan catatan singkat, “ini belum sistematis”. Padahal di awal, mereka merasa sudah membaca puluhan artikel, merangkum temuan, dan menyusunnya rapi per subtema. Yang tidak disadari, cara menyusun seperti itu justru ciri khas narrative literature review, bukan systematic review yang menuntut protokol pencarian dan kriteria seleksi yang bisa ditelusuri ulang oleh orang lain.
Kekeliruan ini wajar terjadi karena kedua istilah sering dipakai bergantian di kelas metodologi penelitian, bahkan di beberapa jurnal sekalipun. Namun bagi mahasiswa yang sedang menyusun proposal atau skripsi, salah paham soal ini bisa berujung revisi berulang, waktu bimbingan yang molor, dan rasa frustrasi karena tidak tahu di mana letak kesalahannya. Artikel ini akan memetakan perbedaan narrative literature review dan systematic review secara konkret, lengkap dengan situasi nyata yang biasa dihadapi mahasiswa Indonesia, supaya kamu bisa menentukan metode yang tepat sejak awal, bukan setelah revisi ketiga.
Daftar Isi
ToggleMasalah yang Sering Muncul Kalau Dua Metode Review Ini Dianggap Sama
Kebingungan soal narrative review dan systematic review jarang muncul saat membaca definisi di buku metodologi. Masalah baru terasa ketika mahasiswa mulai menulis bab metode dan harus menjelaskan bagaimana mereka memilih sumber, berapa banyak artikel yang disaring, dan kenapa artikel tertentu dikeluarkan dari kajian. Di titik inilah perbedaan dua metode ini terasa nyata, bukan sekadar teori.
Skripsi Direvisi Karena Diklaim Sistematis Padahal Prosesnya Tidak Terdokumentasi
Salah satu pola yang sering terjadi, mahasiswa menulis di abstrak atau bab metode bahwa penelitiannya menggunakan “tinjauan sistematis”, tapi saat ditanya dosen penguji soal kata kunci pencarian, basis data yang dipakai, atau kriteria inklusi dan eksklusi, jawabannya tidak jelas. Ini karena proses seleksi artikel dilakukan secara bebas berdasarkan relevansi yang dirasakan penulis, bukan mengikuti protokol yang direncanakan sejak awal.
Masalahnya bukan pada jumlah sumber yang dibaca. Sepuluh atau lima puluh artikel sama-sama bisa jadi masalah kalau proses pemilihannya tidak terdokumentasi. Dosen penguji biasanya langsung menangkap ketidaksesuaian ini karena klaim “sistematis” menuntut transparansi metodologi, bukan sekadar kesan menyeluruh.
Narrative Review yang Terlalu Umum Bikin Sidang Proposal Berlarut
Di sisi lain, ada mahasiswa yang justru menulis narrative review tapi cakupannya terlalu luas dan tidak fokus. Mereka membahas satu topik dari berbagai sudut tanpa batasan yang jelas, sehingga pembimbing kesulitan menilai kontribusi spesifik dari tulisan tersebut. Narrative review memang lebih fleksibel dibanding systematic review, tapi fleksibel bukan berarti tanpa arah.
Kalau topik yang diangkat terlalu lebar, misalnya “perkembangan teknologi pendidikan” tanpa batasan periode, jenis teknologi, atau konteks penerapan, sidang proposal biasanya berhenti di pertanyaan dasar, “fokus penelitian kamu sebenarnya apa”. Ini bukan soal metode yang salah, tapi eksekusi narrative review yang belum punya batasan jelas sejak awal.
Cara Kerja Narrative Review yang Sebenarnya Tidak Sesantai Kelihatannya
Narrative review sering dianggap sebagai “jalur mudah” karena tidak menuntut protokol seketat systematic review. Anggapan ini setengah benar. Prosesnya memang lebih longgar, tapi longgar tidak sama dengan asal comot sumber lalu ditulis ulang dengan bahasa sendiri.
Fleksibel Bukan Berarti Tanpa Struktur
Narrative review tetap membutuhkan alur berpikir yang jelas. Bedanya dengan systematic review terletak pada bagaimana sumber dipilih, bukan pada ada tidaknya struktur. Penulis narrative review biasanya menyusun kajian berdasarkan tema, kronologi, atau perkembangan konsep, dan tetap perlu menjelaskan mengapa sumber tertentu relevan dimasukkan.
Sebagai gambaran, narrative review yang baik tentang perkembangan pembelajaran daring bisa disusun berdasarkan periode waktu, misalnya sebelum dan sesudah pandemi, atau berdasarkan jenis teknologi yang dibahas. Yang membedakannya dari sekadar kumpulan ringkasan adalah adanya benang merah argumen yang menghubungkan satu temuan dengan temuan lain.
Peran Interpretasi Penulis dalam Menyusun Argumen
Narrative review memberi ruang lebih besar bagi interpretasi penulis dibanding systematic review. Penulis boleh menekankan temuan tertentu, membandingkan sudut pandang berbeda antar peneliti, bahkan menunjukkan ketidaksepakatan di antara studi yang ada. Inilah sebabnya dua orang bisa menulis narrative review dengan topik sama tapi hasil akhir yang cukup berbeda, tergantung sumber mana yang mereka anggap paling relevan.
Kebebasan ini punya konsekuensi. Karena bergantung pada penilaian subjektif penulis, narrative review lebih rentan terhadap bias seleksi dibanding systematic review. Bukan berarti narrative review kurang ilmiah, tapi pembaca perlu tahu bahwa kesimpulan dalam narrative review mencerminkan sudut pandang penulis terhadap literatur yang ada, bukan representasi menyeluruh dari semua bukti yang tersedia.
Systematic Review Menuntut Protokol yang Bisa Ditelusuri Ulang
Kalau narrative review bertumpu pada interpretasi penulis, systematic review bertumpu pada prosedur yang bisa diulang oleh orang lain dan menghasilkan kesimpulan yang relatif sama. Prosedur inilah yang membuat systematic review dianggap lebih kuat sebagai bukti ilmiah, terutama di bidang kesehatan dan kebijakan berbasis bukti.
PRISMA Sering Disebut Meski Tidak Selalu Wajib di Skripsi S1
PRISMA adalah panduan pelaporan yang banyak dipakai peneliti untuk menyusun systematic review, mulai dari cara merumuskan pertanyaan penelitian, mendokumentasikan pencarian literatur, sampai melaporkan jumlah artikel yang disaring di setiap tahap. Banyak mahasiswa mendengar istilah ini dan langsung merasa wajib mengikutinya secara kaku, padahal tidak semua program studi S1 menuntut kepatuhan penuh terhadap PRISMA.
Yang lebih penting dipahami mahasiswa S1 adalah prinsip di baliknya, yaitu transparansi. Kamu perlu bisa menjawab dengan jelas berapa banyak artikel yang ditemukan di pencarian awal, berapa yang disaring, dan kenapa sisanya dikeluarkan. Kalau kampusmu tidak mewajibkan diagram alur PRISMA secara formal, prinsip keterlacakan ini tetap harus ada dalam bab metode, meski disajikan dengan format yang lebih sederhana.
Proses Screening yang Membuat Systematic Review Memakan Waktu Lebih Lama
Salah satu alasan systematic review lebih memakan waktu dibanding narrative review adalah tahap screening yang berlapis. Prosesnya biasanya dimulai dari pencarian di beberapa basis data menggunakan kata kunci yang sudah ditentukan, dilanjutkan penyaringan judul dan abstrak, lalu pembacaan teks lengkap untuk artikel yang lolos tahap sebelumnya.
Setiap tahap ini idealnya didokumentasikan, termasuk alasan pengecualian artikel di setiap tahapnya. Kalau kamu memilih systematic review tapi tidak punya waktu untuk proses screening berlapis ini, kemungkinan besar hasil akhirnya justru lebih mirip narrative review yang mengaku sistematis, dan ini yang sering jadi sumber revisi dari dosen penguji.
Titik Perbedaan yang Paling Sering Bikin Bingung
Sebagian besar kebingungan mahasiswa sebenarnya bermuara pada beberapa titik perbedaan inti. Memahami titik-titik ini lebih membantu dibanding menghafal definisi panjang.
| Aspek | Narrative Literature Review | Systematic Review |
|---|---|---|
| Tujuan utama | Memberi gambaran umum dan interpretasi terhadap suatu topik | Menjawab pertanyaan penelitian spesifik dengan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan |
| Proses pencarian sumber | Fleksibel, berdasarkan relevansi menurut penulis | Terstruktur, mengikuti protokol dan kata kunci yang ditentukan sejak awal |
| Kriteria seleksi | Tidak selalu eksplisit | Wajib eksplisit, biasanya berupa kriteria inklusi dan eksklusi |
| Risiko bias | Lebih tinggi karena bergantung pada penilaian subjektif penulis | Lebih rendah karena proses seleksi terdokumentasi dan bisa ditelusuri ulang |
| Waktu pengerjaan | Relatif lebih singkat | Lebih panjang karena proses screening berlapis |
| Cocok untuk | Eksplorasi topik baru, kerangka teori, bab kajian pustaka | Pertanyaan penelitian yang menuntut bukti kuat, evidence based practice |
Soal Reproduksibilitas Bukan Sekadar Istilah Akademik
Reproduksibilitas berarti orang lain bisa mengulang proses pencarian dan seleksi sumber yang kamu lakukan, dan kemungkinan besar sampai pada kumpulan artikel yang serupa. Systematic review dirancang untuk memenuhi syarat ini, sementara narrative review tidak dituntut demikian karena sifatnya memang lebih personal.
Bagi mahasiswa, reproduksibilitas ini punya konsekuensi praktis. Kalau dosen pembimbing atau penguji meminta kamu menunjukkan bagaimana kamu sampai pada kumpulan artikel yang dibahas, dan kamu tidak bisa menjelaskan proses itu secara sistematis, berarti yang kamu tulis lebih dekat ke narrative review, terlepas dari label apa yang kamu pakai di judul.
Kedalaman Topik Versus Kekuatan Bukti
Narrative review unggul dalam mengeksplorasi topik secara luas, menghubungkan berbagai konsep, dan menunjukkan perkembangan pemikiran dari waktu ke waktu. Systematic review unggul dalam menyediakan bukti yang kuat untuk pertanyaan yang sempit dan spesifik. Keduanya bukan soal mana yang lebih baik, tapi soal apa yang dibutuhkan oleh pertanyaan penelitianmu.
Kalau pertanyaan penelitianmu berbentuk “bagaimana perkembangan konsep X dalam satu dekade terakhir”, itu lebih cocok dijawab dengan narrative review. Kalau pertanyaannya berbentuk “seberapa efektif intervensi Y dibanding intervensi Z”, itu wilayah systematic review, karena kamu butuh bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis, bukan sekadar gambaran umum.
Kapan Sebaiknya Memilih Narrative Review untuk Penelitianmu
Narrative review jadi pilihan yang masuk akal dalam beberapa situasi berikut.
- Topik penelitianmu masih tergolong baru dan belum banyak studi empiris yang bisa disaring secara ketat, sehingga pendekatan eksploratif lebih memungkinkan.
- Tujuan penelitianmu adalah membangun kerangka teori atau latar belakang masalah, bukan menjawab pertanyaan sebab akibat yang spesifik.
- Waktu dan sumber daya yang kamu punya terbatas, misalnya untuk skripsi S1 dengan durasi bimbingan yang singkat.
- Kamu perlu menghubungkan beberapa disiplin ilmu sekaligus, di mana pendekatan sistematis yang kaku justru mempersempit cakupan yang dibutuhkan.
Yang perlu diingat, memilih narrative review bukan berarti kamu bisa menulis seadanya. Kamu tetap perlu menjelaskan bagaimana kamu memilih literatur, meski tidak seketat protokol systematic review, supaya tulisanmu tidak terkesan asal kumpul sumber.
Kapan Systematic Review Justru Jadi Pilihan yang Lebih Aman
Ada situasi di mana systematic review lebih tepat dipilih, meski prosesnya lebih menyita waktu.
- Program studimu, terutama di bidang kesehatan atau ilmu terapan, memang mensyaratkan bukti berbasis penelitian yang ketat untuk mendukung rekomendasi praktis.
- Pertanyaan penelitianmu spesifik dan bisa dirumuskan dalam kerangka seperti PICO, misalnya membandingkan efektivitas dua metode terhadap satu hasil tertentu.
- Kamu berencana mempublikasikan hasil kajian ke jurnal yang mensyaratkan transparansi metodologi, bukan sekadar tinjauan naratif.
- Dosen pembimbingmu secara eksplisit meminta pendekatan berbasis bukti yang bisa diverifikasi, biasanya karena topik penelitian menyentuh isu kebijakan atau intervensi.
Kalau kamu memilih jalur ini, siapkan waktu ekstra untuk proses pencarian dan penyaringan literatur, karena inilah bagian yang paling sering meleset dari perkiraan awal mahasiswa.
Contoh Judul Skripsi yang Menunjukkan Alasan di Balik Pilihan Metode
Melihat contoh nyata biasanya lebih membantu dibanding membaca definisi berulang. Berikut beberapa gambaran judul dari disiplin berbeda beserta alasan pemilihan metodenya.
Di bidang kesehatan, judul seperti “Efektivitas Intervensi Edukasi Gizi terhadap Perilaku Makan Remaja, Sebuah Tinjauan Sistematis” cocok memakai systematic review karena pertanyaannya spesifik, membandingkan efektivitas satu jenis intervensi, dan hasilnya berpotensi dipakai sebagai dasar rekomendasi praktis di lapangan.
Di bidang pendidikan, judul seperti “Perkembangan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Satu Dekade Terakhir, Sebuah Tinjauan Naratif” lebih tepat memakai narrative review karena tujuannya memetakan perkembangan konsep dari waktu ke waktu, bukan menguji efektivitas satu metode secara terukur.
Di bidang teknik, judul seperti “Perbandingan Metode Machine Learning untuk Deteksi Dini Kerusakan Struktur Bangunan, Sebuah Tinjauan Sistematis” memakai systematic review karena penelitian ini butuh perbandingan performa antar metode secara terukur dan bisa diverifikasi ulang oleh peneliti lain.
Pola yang bisa kamu tarik dari tiga contoh ini, semakin spesifik dan terukur pertanyaan penelitianmu, semakin besar kemungkinan systematic review yang dibutuhkan. Semakin luas dan eksploratif tujuannya, semakin masuk akal memilih narrative review.
Kesalahan Kecil yang Sering Membuat Review Ditolak Dosen Pembimbing
Beberapa kesalahan berikut terlihat sepele tapi sering jadi alasan utama revisi.
- Menulis “tinjauan sistematis” di judul tapi tidak mencantumkan kriteria inklusi dan eksklusi sama sekali di bab metode.
- Menyusun narrative review tanpa batasan topik yang jelas, sehingga pembahasan melebar ke banyak arah tanpa benang merah argumen.
- Mencampur gaya penulisan systematic review dan narrative review dalam satu naskah, misalnya melaporkan diagram alur seleksi artikel tapi tidak konsisten menjelaskan kriteria di baliknya.
- Hanya mengandalkan satu basis data pencarian, seperti Google Scholar saja, padahal topik penelitian menuntut cakupan sumber yang lebih luas dari basis data seperti Scopus atau ERIC.
- Tidak menjelaskan alasan pengecualian artikel, padahal ini bagian yang paling sering ditanyakan dosen penguji saat sidang.
Kesalahan-kesalahan ini umumnya bukan soal kemampuan menulis, tapi soal kurang jelasnya keputusan metodologis sejak tahap perencanaan. Semakin awal kamu menentukan jenis review yang dipakai, semakin kecil kemungkinan revisi besar muncul di tahap akhir.
Memilih Metode Review yang Sesuai dengan Kondisi Penelitianmu Sendiri
Keputusan antara narrative literature review dan systematic review sebaiknya tidak diambil hanya karena satu terlihat lebih mudah dibanding yang lain. Pertimbangkan tiga hal sekaligus, yaitu bentuk pertanyaan penelitianmu, tuntutan program studi tempat kamu belajar, dan waktu yang benar-benar kamu punya sampai batas akhir bimbingan.
Kalau pertanyaan penelitianmu masih luas dan eksploratif, narrative review memberi ruang yang kamu butuhkan untuk membangun argumen. Kalau pertanyaannya spesifik dan menuntut bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara ketat, systematic review jadi jalur yang lebih aman meski menuntut waktu lebih panjang. Yang paling penting, apa pun metode yang kamu pilih, pastikan kamu bisa menjelaskan proses di baliknya dengan jelas saat dosen bertanya, karena di situlah letak sebenarnya dari kualitas sebuah tinjauan literatur.
Referensi
- DistillerSR. The Difference Between Narrative Review and Systematic Review. https://www.distillersr.com/resources/systematic-literature-reviews/the-difference-between-narrative-review-and-systematic-review
- Library at Advocate Health, Midwest. Types of Reviews, Systematic Review Process. https://library.aah.org/guides/systematicreview/types
- East Carolina University Libraries. About Systematic Reviews. https://libguides.ecu.edu/c.php?g=57734&p=795298
- Jahan N, Naveed S, Zeshan M, Tahir MA. How to Conduct a Systematic Review, A Narrative Literature Review. Cureus, 2016. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5137994/
- Panduan Penulisan Skripsi Literatur Review, Fakultas Kedokteran, UIN Malang. https://kedokteran.uin-malang.ac.id/wp-content/uploads/2020/10/PANDUAN-SKRIPSI-LITERATURE-REVIEW-FIXX.pdf










