Sebelum Submit, Pastikan Dulu Naskahmu Butuh Editing atau Proofreading

Mahasiswa meninjau naskah yang penuh koreksi untuk menentukan apakah membutuhkan editing atau proofreading sebelum disubmit.

Banyak penulis pemula merasa naskahnya sudah siap begitu semua data selesai diolah dan kesimpulan sudah dituliskan. Padahal ada satu tahap yang sering terlewat atau malah tertukar urutannya, yaitu memastikan naskah melewati proses editing dan proofreading dengan benar. Kesalahan memilih salah satu dari dua proses ini bisa membuat naskah bolak balik direvisi, bahkan ditolak di tahap desk review sebelum sempat dibaca reviewer. Tulisan ini membahas cara mengenali kebutuhan naskahmu sendiri, kapan editing lebih dibutuhkan daripada proofreading, dan bagaimana memilih jasa editing jurnal yang benar benar sesuai dengan kondisi naskah, bukan sekadar mengikuti saran teman satu angkatan.

Naskah yang Ditolak Bukan Selalu Soal Data yang Lemah

Kebanyakan penulis mengira penolakan jurnal murni terjadi karena metode penelitian kurang kuat atau topiknya sudah terlalu umum dibahas. Kenyataannya, sebagian besar penolakan justru terjadi di tahap desk review, sebelum naskah sempat dibaca oleh reviewer sama sekali. Sebuah kajian dari Biro Publikasi Jurnal Ilmiah UMA terhadap seratus dua puluh artikel yang ditolak jurnal Q1 dan Q2 mencatat bahwa mayoritas penolakan di tahap ini disebabkan oleh kualitas bahasa yang kurang memenuhi standar, bukan karena kelemahan data. Artinya, penelitian yang sebenarnya solid pun bisa gagal lolos hanya karena cara penyampaiannya berantakan.

Reviewer Sering Berhenti Membaca Sebelum Sampai ke Bagian Penting

Editor jurnal biasanya menerima puluhan naskah setiap minggu, dan mereka tidak punya waktu untuk menerka nerka maksud kalimat yang berbelit. Begitu menemukan struktur paragraf yang tidak logis atau istilah yang dipakai tidak konsisten sejak halaman awal, editor cenderung menghentikan penilaian dan langsung menolak naskah tanpa meneruskannya ke reviewer. Situasi ini yang membuat kualitas bahasa punya bobot lebih besar dari yang dibayangkan kebanyakan penulis pemula, karena naskah yang bagus isinya pun bisa tidak pernah dibaca sampai tuntas.

Baca Juga:  Memilih Narasumber dengan Tujuan yang Jelas, Bukan Asal Kenal: Panduan Purposive Sampling

Proofreading dan Editing Sering Dianggap Sama Padahal Cakupannya Jauh Berbeda

Dua istilah ini sering dipakai bergantian seolah artinya sama, padahal cakupan kerjanya berbeda cukup jauh. Kesalahan menyamakan keduanya inilah yang sering membuat penulis membayar jasa proofreading padahal naskahnya sebenarnya masih butuh perombakan struktur, atau sebaliknya, memakai jasa editing lengkap padahal naskahnya sudah rapi dan hanya perlu dicek detail kecil.

Proofreading Berhenti di Titik Ini

Proofreading adalah tahap pemeriksaan akhir yang fokus pada kesalahan teknis. Menurut definisi yang dikutip dari Cambridge Dictionary, proofreading adalah langkah membaca ulang untuk menemukan kesalahan pada teks sebelum dipublikasikan. Dalam praktiknya di naskah jurnal, proofreading mencakup hal hal berikut.

  • Salah ketik dan typo yang lolos saat menulis cepat
  • Tanda baca yang tidak konsisten, misalnya penggunaan koma sebelum kata sambung
  • Ejaan yang berubah ubah di bagian berbeda, misalnya “analisa” di satu paragraf dan “analisis” di paragraf lain
  • Format sitasi yang tidak seragam antara satu referensi dengan referensi lain

Contoh sederhananya, kalimat “Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel X berpengaruh signifikan trehadap Y” hanya perlu diperbaiki menjadi “Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel X berpengaruh signifikan terhadap Y”. Perubahan seperti ini murni soal ketelitian teknis, isi kalimatnya tidak disusun ulang sama sekali.

Editing Masuk Lebih Dalam ke Struktur dan Alur Argumen

Editing bergerak jauh lebih dalam dibanding proofreading. Menurut catatan dari Scribbr yang dikutip RadVoice Indonesia, editing melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa naskah, bukan sekadar memperbaiki kesalahan kecil. Pada naskah jurnal, editing biasanya mencakup penyusunan ulang alur argumen supaya lebih logis, penyesuaian gaya bahasa akademik, konsistensi terminologi ilmiah di sepanjang naskah, sampai kesesuaian dengan gaya penulisan yang diminta jurnal target seperti IMRAD atau gaya sitasi tertentu.

Bandingkan dua kalimat berikut untuk melihat bedanya dengan proofreading. Sebelum diedit: “Penelitian ini penting dan hasilnya bagus dan bisa dipakai untuk banyak hal, karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan.” Setelah diedit: “Temuan ini memberikan dasar bagi penelitian lanjutan, khususnya untuk menguji penerapannya pada konteks yang lebih luas.” Perhatikan bahwa proses ini tidak sekadar merapikan tanda baca, tapi menyusun ulang cara berpikir kalimat itu sendiri agar terdengar lebih ilmiah dan tidak bertele tele.

Baca Juga:  Langkah-Langkah Menulis Proposal Penelitian, Tesis, dan Skripsi yang Efektif

Kapan Naskah Masih Butuh Editing, Bukan Sekadar Proofreading

Cara paling cepat menentukan kebutuhan naskah adalah dengan menilai dua hal, yaitu apakah masalahnya ada di level kalimat atau di level struktur keseluruhan. Berikut perbandingannya supaya lebih mudah dinilai sendiri.

Kondisi NaskahKebutuhan UtamaAlasan
Argumen antar paragraf melompat lompat, pembaca harus menebak hubungan antar bagianEditingMasalah ada di struktur berpikir, bukan sekadar kalimat
Istilah ilmiah dipakai tidak konsisten, kadang bahasa Indonesia kadang bahasa Inggris tanpa alasan jelasEditingPerlu penyesuaian gaya bahasa secara menyeluruh
Draf sudah direview kolega dan strukturnya sudah disepakati logisProofreadingTinggal memastikan tidak ada typo, ejaan, dan tanda baca yang lolos
Naskah hasil terjemahan mandiri dari draf berbahasa IndonesiaEditingTerjemahan mandiri biasanya masih kaku secara struktur kalimat, bukan cuma salah ketik

Tanda Naskah Masih Perlu Dirombak Strukturnya

  • Pembaca lain (dosen pembimbing, kolega satu lab) sering bertanya “maksudnya apa” saat membaca paragraf tertentu
  • Kesimpulan di bagian akhir terasa tidak nyambung dengan tujuan penelitian yang ditulis di awal
  • Ada bagian yang terasa diulang ulang dengan kata berbeda tanpa menambah informasi baru
  • Istilah kunci penelitian berubah ubah penyebutannya di sepanjang naskah

Tanda Naskah Sudah Siap dan Tinggal Dicek Detailnya

  • Alur dari pendahuluan sampai simpulan sudah runtut dan sudah disetujui pembimbing
  • Tidak ada lagi bagian yang perlu ditulis ulang, hanya perlu dibaca ulang dengan teliti
  • Kekhawatiran utama tinggal soal typo, konsistensi istilah, dan format sitasi
  • Naskah sudah mengikuti template resmi dari jurnal target, tinggal memastikan tidak ada kesalahan kecil yang terlewat

Kesalahan yang Membuat Penulis Salah Pilih Layanan Sejak Awal

Kesalahan memilih layanan biasanya bukan karena penulis malas, tapi karena tidak tahu bedanya sejak awal. Berikut pola yang paling sering terjadi.

  • Membayar proofreading padahal naskah masih berantakan strukturnya, akibatnya proofreader hanya bisa memperbaiki tanda baca sementara masalah alur argumen tetap ada, dan naskah tetap berisiko ditolak
  • Melewatkan proofreading karena merasa editing sudah cukup, padahal proses editing yang fokus pada struktur besar kadang meninggalkan typo kecil yang baru muncul akibat penyusunan ulang kalimat
  • Mengirim naskah untuk diedit tanpa menyertakan author guidelines dari jurnal target, sehingga hasil editing tidak sesuai dengan format yang sebenarnya diminta
  • Menganggap satu putaran editing atau proofreading sudah final, padahal naskah akademik biasanya butuh minimal dua kali pembacaan ulang sebelum benar benar siap
Baca Juga:  Naskah Sudah Direvisi Berkali-kali Tapi Kapan Waktunya Diserahkan ke Jasa Proofreading

Urutan Kerja yang Tepat Sebelum Naskah Benar-Benar Siap Dikirim

Urutan yang keliru sering jadi penyebab naskah bolak balik direvisi. Berikut tahapan yang sebaiknya diikuti secara berurutan.

  • Selesaikan draf penuh terlebih dahulu, termasuk semua bagian dari pendahuluan sampai simpulan, tanpa mengkhawatirkan kerapian bahasa dulu
  • Lakukan atau gunakan jasa editing untuk merapikan struktur, alur argumen, dan konsistensi istilah di seluruh naskah
  • Sesuaikan format naskah dengan author guidelines jurnal target, termasuk gaya sitasi dan struktur IMRAD jika diminta
  • Baru lakukan proofreading sebagai pemeriksaan akhir untuk typo, tanda baca, dan ejaan
  • Minta satu pembaca lain membaca naskah versi final sebelum benar benar disubmit, karena mata yang sudah terlalu lama menatap naskah sendiri cenderung melewatkan kesalahan kecil

Mengerjakan proofreading sebelum editing selesai biasanya percuma, karena bagian yang sudah diperbaiki tanda bacanya bisa berubah total saat strukturnya masih dirombak di tahap editing.

Bagian yang Perlu Dicek Ulang Menjelang Deadline Submission

  • Abstrak, karena bagian ini sering ditulis di awal lalu tidak diperbarui setelah isi naskah berubah selama proses editing
  • Konsistensi antara judul, tujuan penelitian di pendahuluan, dan simpulan di bagian akhir
  • Format referensi, karena satu gaya sitasi yang tercampur dengan gaya lain bisa jadi alasan penolakan administratif
  • Jumlah kata, karena banyak jurnal punya batas ketat dan naskah yang melebihi atau kurang dari batas bisa langsung ditolak tanpa dibaca isinya

Memilih Jasa Editing Jurnal yang Sesuai dengan Kondisi Naskahmu

Setelah tahu naskahmu ada di kondisi yang mana, langkah berikutnya adalah memastikan jasa yang dipilih benar benar menawarkan layanan yang sesuai, bukan sekadar paket umum yang sama untuk semua jenis naskah. Sebagian penyedia jasa menggabungkan editing dan proofreading dalam satu paket, tapi kedalaman pengerjaannya bisa berbeda jauh antara satu penyedia dengan penyedia lain. Ada juga penyedia yang mengkhususkan diri pada bidang ilmu tertentu, misalnya kesehatan atau teknik, yang biasanya lebih paham istilah teknis di bidang tersebut dibanding penyedia jasa umum.

Pertanyaan yang Perlu Diajukan ke Penyedia Jasa Sebelum Deal

  • Apakah layanan ini mencakup penyesuaian dengan author guidelines jurnal target, atau hanya perbaikan bahasa secara umum
  • Berapa kali revisi ulang yang termasuk dalam paket, karena naskah akademik jarang selesai hanya dengan satu putaran
  • Apakah editor yang menangani naskah punya latar belakang di bidang ilmu yang sesuai dengan topik penelitianmu
  • Berapa lama estimasi waktu pengerjaan, terutama jika naskahmu punya deadline submission yang ketat
  • Apakah ada sertifikat editing yang bisa dilampirkan saat submit, karena beberapa jurnal internasional mensyaratkan ini untuk penulis non native

Menentukan Langkah yang Tepat Sebelum Naskah Benar-Benar Dikirim

Kalau disederhanakan, pertanyaannya bukan lagi “editing atau proofreading”, tapi “naskahku sekarang ada di tahap mana”. Naskah yang strukturnya masih membingungkan pembaca butuh editing dulu, sementara naskah yang sudah rapi dan disetujui pembimbing tinggal butuh proofreading sebagai pemeriksaan akhir. Menjalankan urutan ini dengan benar, mulai dari editing struktur, penyesuaian dengan panduan jurnal, sampai proofreading di tahap paling akhir, akan mengurangi risiko naskah ditolak hanya karena alasan bahasa, padahal isi penelitiannya sebenarnya layak dipublikasikan.

Referensi

Konten menarik lain:​
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted