Banyak mahasiswa yang sudah tahu istilah research gap, tapi ketika diminta menjelaskannya ke dosen pembimbing, mendadak bingung. Mereka bisa menghafal definisinya dari internet, tapi tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti: “Oke, jadi gap penelitian kamu di mana tepatnya?” Itu masalahnya. Memahami konsep saja tidak cukup kalau tidak tahu bagaimana menerapkannya dalam tulisan ilmiah yang nyata.
Gap penelitian bukan sekadar syarat formalitas yang harus dicantumkan di BAB I. Ia adalah alasan mengapa penelitianmu perlu ada. Tanpa gap yang jelas, penelitian apapun bisa dianggap mengulang apa yang sudah orang lain lakukan. Dan itu adalah sesuatu yang hampir semua dosen penguji akan pertanyakan.
Artikel ini tidak hanya menjelaskan apa itu gap penelitian. Di sini kita akan bahas jenis-jenisnya lengkap dengan contoh kalimat, cara menemukannya secara sistematis, perbedaannya dengan novelty, sampai cara menuliskannya di pendahuluan skripsi dengan template yang bisa langsung kamu gunakan.
Daftar Isi
ToggleApa yang Dimaksud Gap dalam Penelitian
Setiap penelitian ilmiah yang baik dimulai dari satu pertanyaan mendasar: apa yang belum diketahui? Gap penelitian adalah jawaban atas pertanyaan itu.
Secara konseptual, gap penelitian adalah celah atau kekosongan dalam pengetahuan ilmiah yang ada, di mana suatu topik atau pertanyaan penelitian belum dijawab secara memadai oleh studi-studi sebelumnya. Menurut Creswell dalam Research Design (edisi 2017), gap merujuk pada kesenjangan antara apa yang sudah diteliti dengan area yang masih membutuhkan eksplorasi lebih lanjut. Sementara menurut Hanifah, Abdillah, dan Wachyudi (2022), gap penelitian adalah kondisi di mana suatu area atau topik belum dieksplorasi secara memadai oleh penelitian yang ada.
Definisi yang lebih operasional: gap adalah inkonsistensi antara hasil penelitian terdahulu dengan data di lapangan, atau antara teori yang ada dengan fenomena yang terjadi saat ini. Artinya, gap tidak harus berarti topik yang belum pernah diteliti sama sekali. Bisa jadi topiknya sudah banyak diteliti, tapi di konteks yang berbeda, dengan metode yang berbeda, atau pada populasi yang berbeda.
Penting untuk memahami perbedaan kontekstual ini. Mahasiswa S1 biasanya cukup menemukan gap yang sederhana misalnya penelitian sebelumnya belum pernah dilakukan di wilayah tertentu atau pada populasi tertentu. Mahasiswa S2 dan S3, serta penulis jurnal, diharapkan menemukan gap yang lebih substantif, seperti kelemahan teori atau metodologi yang perlu disempurnakan.
Mengapa Gap Penelitian Penting untuk Skripsi dan Jurnal
Kalau ada satu hal yang membedakan skripsi yang kuat dari yang lemah, itu ada di bagian ini.
Gap penelitian berfungsi sebagai justifikasi keberadaan penelitianmu. Ia menjawab pertanyaan paling mendasar yang akan ditanyakan penguji: mengapa penelitian ini perlu dilakukan? Tanpa gap yang kuat, tidak ada alasan ilmiah yang bisa dipertahankan. Dosen pembimbing dan reviewer jurnal menilai ini dengan serius, karena penelitian yang tidak memiliki gap yang jelas berpotensi dianggap sebagai duplikasi dari penelitian yang sudah ada.
Lebih dari itu, gap penelitian membantu kamu menentukan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang spesifik. Peneliti yang bisa mengidentifikasi gap dengan tepat biasanya juga lebih mudah menentukan metode yang paling sesuai, karena mereka tahu persis apa yang ingin mereka jawab dan mengapa metode tertentu lebih relevan dari yang lain.
Kebutuhan gap berbeda tergantung level akademik. Untuk skripsi S1, gap bisa bersifat kontekstual, misalnya penelitian yang sama belum pernah dilakukan di lokasi atau kelompok responden tertentu. Untuk tesis S2, gap diharapkan menyentuh aspek teoritis atau metodologis yang lebih dalam. Sedangkan untuk disertasi atau artikel jurnal internasional, gap harus menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan.
Jenis-Jenis Gap Penelitian Beserta Ciri dan Contoh Kalimatnya
Tidak semua celah dalam penelitian bentuknya sama. Mengenali jenisnya akan membantu kamu tidak hanya menemukan gap, tapi juga menuliskannya dengan cara yang tepat dan meyakinkan.
Berikut ringkasan tabel jenis-jenis gap penelitian:
| Jenis Gap | Ciri Utama | Contoh Kalimat Gap |
|---|---|---|
| Theoretical gap | Teori yang ada belum menjelaskan fenomena secara menyeluruh | “Teori X belum mampu menjelaskan fenomena Y dalam konteks Z…” |
| Evidence gap | Hasil dari berbagai studi saling bertentangan | “Penelitian A dan B menghasilkan temuan yang kontradiktif mengenai…” |
| Population gap | Penelitian belum menjangkau kelompok atau wilayah tertentu | “Penelitian sebelumnya hanya mencakup responden di perkotaan, sementara di daerah pedesaan belum diteliti…” |
| Methodological gap | Metode yang digunakan sebelumnya tidak memadai | “Sebagian besar studi menggunakan pendekatan kuantitatif, padahal fenomena ini membutuhkan eksplorasi kualitatif…” |
| Empirical gap | Tidak ada bukti empiris yang cukup untuk mendukung suatu teori | “Meskipun teori X sudah diajukan, belum ada penelitian empiris yang mengujinya secara langsung…” |
| Knowledge gap | Ada area pengetahuan yang belum pernah disentuh sama sekali | “Belum ada penelitian yang mengkaji hubungan antara X dan Y dalam konteks industri kreatif di Indonesia…” |
Theoretical gap
Jenis ini muncul ketika teori yang menjadi landasan suatu penelitian memiliki keterbatasan dalam menjelaskan fenomena tertentu. Bisa jadi teorinya sudah ada, tapi tidak cukup komprehensif, atau ada temuan baru yang bertentangan dengan teori yang selama ini dipegang. Misalnya, dalam penelitian pendidikan, banyak teori belajar yang dikembangkan di negara Barat dan belum tentu relevan secara langsung dengan konteks siswa di Indonesia. Celah inilah yang bisa dijadikan dasar untuk mengembangkan atau memperluas kerangka teoritis yang ada.
Evidence gap
Evidence gap terjadi ketika hasil penelitian yang ada saling bertolak belakang satu sama lain, sehingga tidak ada kesimpulan yang bisa diambil secara pasti. Contoh yang paling sering dijumpai adalah penelitian tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental. Satu studi mengatakan media sosial meningkatkan konektivitas dan berdampak positif, sementara studi lain menunjukkan ia memperburuk kecemasan dan depresi. Kontradiksi inilah yang menjadi celah, dan penelitian baru bisa hadir untuk mencoba merekonsiliasi perbedaan tersebut atau menambahkan variabel yang selama ini diabaikan.
Population gap
Ini mungkin jenis gap yang paling mudah ditemukan untuk skripsi S1. Population gap muncul ketika penelitian sebelumnya hanya berfokus pada kelompok, lokasi, atau demografi tertentu, sementara kelompok lain belum pernah diteliti. Perpustakaan UMY mencontohkan, sebagian besar penelitian tentang pengalaman pengguna perpustakaan hanya mengkaji universitas di kota besar, padahal karakteristik mahasiswa di daerah terpencil atau pedesaan bisa sangat berbeda. Menjembatani celah populasi seperti ini adalah kontribusi yang valid dan bisa dipertahankan.
Methodological gap
Kesenjangan metodologis terjadi ketika metode yang digunakan dalam penelitian terdahulu tidak cukup mampu menjawab pertanyaan penelitian secara akurat. Ini bukan berarti metodologi lama itu salah, tapi bisa jadi tidak paling tepat untuk pertanyaan yang ingin dijawab. Sebagai contoh, jika semua penelitian tentang pengalaman belajar daring menggunakan angket tertutup, ada celah metodologis karena pengalaman adalah fenomena yang lebih kaya dan nuansanya tidak bisa ditangkap hanya lewat angka. Penelitian berikutnya bisa mengisi celah ini dengan pendekatan wawancara mendalam atau focus group discussion.
Empirical gap
Empirical gap muncul ketika sebuah teori atau konsep sudah dikemukakan, tapi belum diuji secara empiris dalam kondisi yang nyata. Ini sering terjadi dalam bidang yang perkembangannya sangat cepat, seperti teknologi pendidikan. Sebuah teori tentang efektivitas augmented reality dalam pembelajaran mungkin sudah ada, tapi belum ada penelitian lapangan yang benar-benar mengukurnya dengan responden nyata di kelas sungguhan. Mengisi celah empiris berarti membawa teori ke dalam pengujian dunia nyata.
Knowledge gap
Jenis ini adalah celah yang paling fundamental: ada pertanyaan yang belum pernah dijawab oleh siapapun. Ini bukan berarti topiknya tidak pernah disinggung, tapi hubungan spesifik antara dua variabel atau fenomena tertentu memang belum pernah diteliti. Misalnya, ada banyak penelitian tentang literasi keuangan di kalangan mahasiswa, tapi hubungan antara literasi keuangan dan keputusan berwirausaha di kalangan mahasiswa vokasi di Indonesia mungkin belum pernah dijelajahi. Itu adalah knowledge gap.
Perbedaan Gap Penelitian dan Novelty dalam Satu Pandangan
Dua istilah ini sering diucapkan bersama, tapi sering juga dicampuradukkan. Padahal fungsinya berbeda.
Gap penelitian adalah masalah atau celah yang kamu temukan dari literatur. Novelty adalah solusi atau kebaruan yang kamu tawarkan untuk mengisi celah itu. Kalau gap adalah pertanyaan, maka novelty adalah jawaban. Keduanya tidak bisa dipisahkan: gap yang kuat akan menghasilkan novelty yang jelas, dan novelty yang lemah biasanya disebabkan oleh gap yang tidak cukup dieksplor.
Perbedaan mendasarnya bisa dilihat dalam tabel berikut:
| Aspek | Gap Penelitian | Novelty |
|---|---|---|
| Definisi | Celah atau kekurangan dalam literatur yang ada | Kebaruan atau kontribusi baru yang ditawarkan penelitian |
| Fokus | Apa yang belum diketahui atau belum diteliti | Apa yang baru dari penelitian yang dilakukan |
| Pertanyaan yang dijawab | Mengapa penelitian ini perlu dilakukan? | Apa yang membedakan penelitian ini dari yang sebelumnya? |
| Posisi dalam tulisan | Disebutkan di bagian pendahuluan atau latar belakang | Disebutkan di pendahuluan dan dibuktikan di seluruh penelitian |
| Sifat | Identifikasi masalah | Tawaran solusi atau pendekatan baru |
Hubungan keduanya bersifat kausal. Penelitian yang menemukan gap metodologis misalnya, bahwa semua penelitian sebelumnya hanya menggunakan survei, bisa menawarkan novelty berupa penggunaan metode wawancara mendalam yang memberikan data lebih kaya. Gap adalah titik berangkat, novelty adalah titik tiba.
Menurut Perpustakaan UMY, penelitian yang baik diawali dengan identifikasi gap yang kuat, kemudian diikuti dengan novelty yang konkret. Tanpa gap yang jelas, novelty akan terasa mengada-ada. Sebaliknya, gap yang kuat tapi tidak diikuti novelty yang nyata hanya akan membuat penelitian terasa seperti mengulang masalah lama tanpa solusi.
Cara Menemukan Gap Penelitian Secara Sistematis
Masalah yang paling sering dihadapi mahasiswa bukan tidak adanya gap, tapi tidak tahu cara menemukannya. Banyak yang membaca puluhan jurnal tapi tetap tidak bisa menunjuk satu celah yang spesifik. Ini biasanya karena membaca tanpa tujuan yang jelas.
Berikut langkah sistematis yang bisa diikuti:
Langkah 1: Tentukan topik dan baca dengan tujuan
Mulailah dari topik yang sudah kamu tentukan. Baca abstrak, pendahuluan, bagian keterbatasan penelitian, dan bagian saran untuk penelitian selanjutnya. Bagian keterbatasan dan saran adalah tambang emas. Di sanalah peneliti sebelumnya sendiri yang menunjukkan di mana celah penelitiannya berada.
Langkah 2: Petakan apa yang sudah dan belum diteliti
Setelah membaca beberapa literatur, buat peta sederhana. Apa topik yang terus muncul? Metode apa yang paling sering digunakan? Kelompok responden mana yang sudah banyak diteliti? Dari sana, pola kekosongannya akan mulai terlihat.
Langkah 3: Gunakan tools pencari gap
Membaca manual memang cara yang klasik, tapi ada tools yang bisa mempercepat prosesnya. Connected Papers (connectedpapers.com) membantu memetakan hubungan antar artikel ilmiah secara visual, sehingga kamu bisa melihat klaster topik dan wilayah yang masih kosong. Semantic Scholar menyediakan akses ke jutaan artikel dengan fitur pencarian yang lebih cerdas dari Google Scholar biasa. Research Rabbit bisa digunakan untuk menelusuri artikel-artikel yang saling berkaitan berdasarkan satu paper awal yang kamu pilih.
Langkah 4: Identifikasi jenis gap yang kamu temukan
Setelah menemukan celahnya, tentukan termasuk jenis gap apa. Ini penting karena akan menentukan bagaimana kamu menuliskannya dan bagaimana kamu memposisikan kontribusi penelitianmu.
Langkah 5: Formulasikan gap dalam kalimat ilmiah
Gap yang sudah ditemukan harus dituliskan dengan kalimat yang tegas dan bisa diverifikasi. Bukan sekadar “belum banyak yang meneliti,” tapi “penelitian sebelumnya belum mengkaji X pada konteks Y dengan menggunakan pendekatan Z.”
Cara Menulis Gap Penelitian di Latar Belakang Skripsi
Menemukan gap adalah satu hal. Menuliskannya dengan baik di latar belakang adalah hal yang lain, dan ini yang sering membuat mahasiswa tersandung.
Posisi gap dalam struktur BAB I
Gap penelitian biasanya muncul di bagian tengah hingga akhir latar belakang. Strukturnya mengalir seperti ini: pertama, kamu menjelaskan urgensi topik dan kenapa relevan. Lalu kamu memaparkan perkembangan penelitian yang sudah ada. Baru kemudian kamu menunjukkan celahnya. Dan terakhir, kamu menegaskan bahwa penelitianmu hadir untuk mengisi celah tersebut.
Struktur paragraf penulisan gap
Paragraf gap yang kuat mengikuti pola: urgensi topik, perkembangan penelitian terdahulu, identifikasi celah, lalu tujuan penelitian. Jangan langsung menyebut gap tanpa konteks, karena pembaca perlu diajak melihat sendiri mengapa celah itu ada.
Template kalimat gap yang bisa langsung digunakan
Beberapa pola kalimat yang umum dan efektif:
- “Meskipun sejumlah penelitian telah mengkaji [topik], belum ada studi yang secara khusus menelaah [aspek spesifik] pada [konteks/populasi tertentu].”
- “Penelitian sebelumnya cenderung menggunakan [metode tertentu], namun pendekatan ini belum mampu menangkap [dimensi yang belum dieksplorasi].”
- “Temuan dari berbagai studi menunjukkan hasil yang tidak konsisten mengenai [topik], sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk [tujuan].”
- “Penelitian yang ada masih terbatas pada [kelompok/wilayah tertentu], sementara [kelompok/wilayah lain] belum mendapat perhatian yang memadai.”
Contoh penulisan gap dari tiga bidang
Bidang pendidikan: “Penelitian tentang efektivitas pembelajaran berbasis proyek sudah cukup banyak dilakukan di sekolah perkotaan dengan infrastruktur lengkap. Namun, penerapannya di madrasah aliyah di wilayah pedesaan dengan keterbatasan sumber daya masih belum banyak dikaji. Celah inilah yang mendorong penelitian ini.”
Bidang ekonomi: “Studi-studi tentang keputusan investasi mahasiswa di Indonesia umumnya berfokus pada mahasiswa program reguler di universitas besar. Mahasiswa vokasi dan politeknik, yang memiliki latar belakang dan orientasi karir yang berbeda, belum mendapat perhatian yang proporsional dalam literatur yang ada.”
Bidang kesehatan: “Banyak penelitian menunjukkan hubungan antara pola tidur dan produktivitas, namun sebagian besar menggunakan pengukuran subjektif berupa kuesioner. Pendekatan yang mengintegrasikan data objektif dari wearable device untuk populasi mahasiswa Indonesia masih sangat terbatas.”
Contoh Tabel Gap Penelitian dari Jurnal Terdahulu
Tabel gap penelitian adalah cara paling efektif untuk menunjukkan kepada dosen bahwa kamu benar-benar sudah membaca literatur dan bukan hanya mengklaim ada celah tanpa bukti.
Fungsi tabel ini bukan sekadar dekorasi di BAB I. Ia membuktikan bahwa kamu telah menelaah penelitian terdahulu secara sistematis dan dapat menunjukkan dengan tepat di mana posisi penelitianmu di antara yang sudah ada.
Struktur tabel gap penelitian yang umum digunakan
| No | Peneliti dan Tahun | Topik | Metode | Hasil Utama | Keterbatasan / Celah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Sari et al. (2022) | Pengaruh media sosial terhadap motivasi belajar mahasiswa | Kuantitatif, survei | Media sosial berpengaruh positif secara signifikan | Penelitian hanya di satu universitas, belum mencakup perbedaan platform |
| 2 | Kurniawan (2023) | Penggunaan Instagram dan kepercayaan diri remaja | Kuantitatif, regresi | Terdapat korelasi positif moderat | Responden terbatas pada remaja perempuan, belum ada data dari remaja laki-laki |
| 3 | Fitriani dan Hasan (2021) | Dampak TikTok pada pola belajar siswa SMA | Kualitatif, wawancara | TikTok mengurangi fokus belajar | Studi terbatas pada satu sekolah, tidak representatif untuk skala nasional |
| 4 | Rahmat (2023) | Literasi digital mahasiswa dan penggunaan media sosial | Deskriptif kuantitatif | Literasi digital berkorelasi dengan penggunaan yang lebih bijak | Tidak mengukur pengaruh jangka panjang |
| 5 | Dewi dan Yusuf (2024) | Media sosial dan kesehatan mental mahasiswa vokasi | Mixed methods | Hasil beragam, tidak konklusif | Belum ada studi yang membandingkan antar jenis program studi secara spesifik |
Dari tabel seperti ini, celah yang tersisa akan tampak sendiri: belum ada penelitian yang membandingkan dampak media sosial pada mahasiswa dari berbagai jenis program studi secara sekaligus, menggunakan metode yang mampu menangkap nuansa kualitatif sekaligus data kuantitatif yang cukup besar. Itulah gap yang bisa kamu isi.
Kesalahan Umum Mahasiswa dalam Merumuskan Gap Penelitian
Memahami konsep gap bukan berarti otomatis bisa merumuskannya dengan benar. Ada beberapa kesalahan yang sangat umum terjadi, dan hampir semuanya bisa dihindari kalau kamu tahu harus waspada terhadap apa.
Menganggap gap hanya soal topik yang belum pernah diteliti
Ini adalah kesalahpahaman yang paling sering. Banyak mahasiswa berpikir kalau topiknya belum pernah ada yang meneliti, itu otomatis menjadi gap yang kuat. Padahal bisa jadi topik itu memang tidak diteliti karena tidak relevan atau tidak ada pertanyaan ilmiah yang signifikan di sana. Gap yang baik bukan hanya soal kebaruan, tapi juga relevansi dan signifikansi akademiknya.
Menyalin gap dari penelitian lain tanpa adaptasi konteks
Ini lebih berbahaya dari yang dibayangkan. Beberapa mahasiswa mengambil pernyataan “saran penelitian selanjutnya” dari satu jurnal dan langsung menjadikannya gap penelitian sendiri tanpa memverifikasi apakah celah itu sudah diisi oleh penelitian yang lebih baru. Kalau kamu menyatakan ada celah tapi ternyata sudah ada tiga penelitian yang mengisinya dalam dua tahun terakhir, argumenmu langsung runtuh saat sidang.
Tidak menghubungkan gap dengan rumusan masalah
Gap yang sudah ditemukan harus mengalir secara logis ke rumusan masalah. Kalau gap-nya tentang keterbatasan metode kuantitatif, maka rumusan masalahnya harus merefleksikan itu. Jika keduanya terasa tidak nyambung, dosen penguji akan dengan mudah menangkap inkonsistensi ini.
Melebih-lebihkan celah hingga terkesan tidak realistis
Ada juga mahasiswa yang terlalu ambisius dalam merumuskan gap, seolah penelitian mereka akan mengubah seluruh bidang ilmu. Pernyataan seperti “belum ada satupun penelitian yang membahas ini di seluruh dunia” hampir selalu bisa dipatahkan. Lebih baik rumuskan gap dengan jujur dan spesifik: “belum ada penelitian yang mengkaji aspek X secara khusus pada konteks Y dalam lima tahun terakhir” adalah pernyataan yang bisa diverifikasi dan dipertahankan.
Refleksi: Gap Penelitian Sebagai Titik Awal Kontribusi Ilmiah
Setelah semua yang kita bahas, ada satu hal yang perlu diingat ketika kamu mulai mencari gap penelitianmu.
Menemukan gap bukan sekadar formalitas akademik yang harus dilalui sebelum bisa menulis BAB II. Gap penelitian adalah titik di mana kamu sebagai peneliti muda mulai berkontribusi, sekecil apapun kontribusi itu, pada bangunan pengetahuan yang lebih besar. Ketika kamu berhasil mengidentifikasi bahwa ada pertanyaan yang belum dijawab dan kemudian menjawabnya dengan metodologi yang tepat, itulah inti dari kegiatan ilmiah.
Gap yang kuat bukan yang paling besar atau paling revolusioner. Gap yang kuat adalah yang jujur, spesifik, dan bisa dipertahankan dengan argumen yang berdasar literatur. Seorang mahasiswa S1 yang menemukan bahwa suatu metode belum pernah diterapkan di satu kota tertentu, dan kemudian meneliti itu dengan serius, sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada yang ia sadari.
Mulailah dari pertanyaan kecil: apa yang sudah ada, dan apa yang belum? Dari sana, sisanya akan mengikuti.
REFERENSI
- Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2017). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed.). Sage Publications. https://us.sagepub.com/en-us/nam/research-design/book255675
- Hanifah, U., Abdillah, A., & Wachyudi, K. (2022). Pemahaman Gap Research dalam Penelitian. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/379957331_PEMAHAMAN_GAP_RESEARCH_DALAM_PENELITIAN
- Perpustakaan UMY. (2024). Tujuh Jenis Research Gaps untuk Membangun Penelitian yang Relevan dan Berdampak. https://library.umy.ac.id/menggali-7-research-gaps-untuk-membangun-penelitian-yang-relevan-dan-berdampak/
- Perpustakaan UMY. (n.d.). Apa Perbedaan antara Research Gap dan Novelty? https://library.umy.ac.id/apa-perbedaan-antara-research-gap-dan-novelty/
- Abd-alrazaq, A., et al. (2024). Machine Learning-Based Approach for Identifying Research Gaps: COVID-19 as a Case Study. JMIR Medical Informatics. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10916961/
- Nyanchoka, L., et al. (2019). Key stakeholders’ perspectives and experiences with defining, identifying and displaying gaps in health research. BMJ Open. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6731867/
- Connected Papers. (n.d.). Find and explore academic papers. https://www.connectedpapers.com
- Ebizmark. (2024). Cara Mengidentifikasi Research Gap untuk Skripsi dan Tesis. https://ebizmark.id/artikel/cara-mengidentifikasi-research-gap-untuk-skripsi-dan-tesis/










